Kamis, 02 Januari 2014

rangkuman buku the greet ruminant



FILOSOFI DAN DIMENSI PENDIDIKAN
1.    Filosofi Pendidikan
Filosofi pendidikan adalah to hear is to forget, to see is to remember, to read is to learn, dan to do is to understand. To hear is to forget bermakna jika hanya mendengarkan, peluang untuk melupakannya adalalah tinggi. To see is to remember bermakna bahwa sesutu apabila dilihat, maka peluangnya untuk mengingat sangat tinggi.
To read is to learn artinya membaca adalah belajar. Hal ini bermakna bahwa untuk mempeljari sesuatu dengan baik, harus dengan membaca. Dengan membaca, mengantarkan untuk mengetahui hal tersebut dengan jelas. To do is to understand bermakna bahwa untuk mengerti suatu ilmu pengetahuan atau teknologi, satu-satunya cara yang paling baik adalah dengan jalan melakukannya, mempraktikkannya, sehingga dengan mudah dapat mengerti mengenai ilmu pengetahuan atau teknologi tersebut. Misalnya dengan melaksanakan pemeliharaan sapi pedaging.
2.    Dimensi Pendidikan
Dimensi pendidikan adalah long life education, wide education, dan deep education. Long Life Education bermakna bahwa kehidupan ini harus diisi dengan pembelajaran. Untuk memecahkan masalah dalam kehidupan ini harus dengan jalan belajar. Wide Education (pendidikan yang melebar) bermakna bahwa dalam mengarungi kehidupan ini harus dengan memperlebar wawasan, banyak belajar berbagai macam ilmu pengetahuan. Tidak cukup hanya mengetahui satu ilmu pengetahuan saja dalam mengarungi kehidupan ini.
Deep Education (Pendidikan yang mendalam) bermakna bahwa seseorang yang mau sukses, dia harus memiliki ilmu pengetahuan atau teknologi yang mendalam dan profesional. Dengan menghayati filosofi dan dimensi pendidikan diharapkan secara individu yang kemudian berkembang membentuk budaya masyarakat, yakni budaya ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (budaya IPTEKS). Apabila masyarakat mau melakukan sesuatu, maka masyarakat melakukannya berdasar ilmu pengetahuan.
3.    Ternak Ruminansia
Ternak Ruminansia di Indonesia dikenal dengan ternak berperut empat. Disebut berperut empat, karena ternak tersebut memiliki empat bagian perut, yaitu rumen, retikulum, omasum, abmasum serta usus. Ternak Ruminansia diciptakan Tuhan Yang Maha Pencipta dengan fitrah untuk memanfaatkan hijauan berupa berbagai rumput dan leguminosa yang pada umur tua mengalami penebalan dinding sel karena mengalami proses lignifikasi.
Ternak ruminansia juga dapat memanfaatkan limbah atau hasil ikutan pertanian dan hasil ikutan industri yang mengandung serat kasar tinggi. Kemampuan ternak Rumimansia memanfaatkan serat kasar tinggi, oleh karena keberadaan mikroorganisme di dalam rumen. Di samping kemampuannya untuk mencerna serat kasar, ternak Ruminansia juga dapat menghasilkan vitamin B kompleks dan protein hewani untuk kebutuhannya. Produksi vitamin B kompleks dapat terjadi karena berlangsungnya proses fermentasi dalam rumen. Sedangkan produksi protein hewani dapat dihasilkan karena keberadaan Protozoa.


KEUNIKAN RUMINANSIA
Ternak Ruminansia merupakan ternak yang sangat ajaib sebab pada dirinya terjadi suatu peristiwa ynag menakjubkan, mulai dari pembentukan rumen, retikulum, omasum, dan abomasum sampai kepada terjadinya proses-proses pembentukan berbagai produk yang dihaslkan dalam rumen untuk memenuhi kebutuhan ternak Ruminansia tersebut. Disamping terjadinya hal – hal yang unik di dalam rumen, ternak tersebut juga mempunyai peranan yang sangat besar dalam mengabdikan dirinya untuk kesejahteraan umat manusia. Termasuk ternak Ruminansia adalah kambing, domba, rusa, sapi, dan kerbau.
Kata ruminant (ruminansi) berasal dari kata latin Ruminare yang artinya berpikir. Istilah ini timbul mungkin karena Ruminansia berusaha mengatasi masalah yang dihadapinya dengan melakukan remastikasi dan membuat sendiri zat – zat yang dibutuhkan dari bahan-bahan yang lain di dalam rumen – retikulum (reticulorumen).
Dalam memenuhi kebutuhan itulah, ditemukan peristiwa yang sangat menakjubkan, peristiwa – peristiwa tersebut adalah sebagai berikut :
a.    Perkembangan Alat Pencernaan
b.    Reaktor Biologis
c.    Mastikasi dan Remastikasi
d.   Media Pertumbuhan Mikroorganisme
e.    Pembentukan Protein Bersel Satu
f.     Perjalanan Nitrogen


g.    Produksi Enzim Pemecah Ikatan Beta
h.    Produksi Gula Jerami
i.      Pelopor Bioteknologi
j.      Sistem Pencegahan Gembung Perut
Peranan Ternak Ruminansia adalah sebagai berikut :
a.    Industri Biologis Berkelanjutan
b.    Industri Biofarmasi
c.    Produser Protein Bersel Satu
d.   Komoditi Pembangkit Pendapatan
e.    Industri Pupuk Bergerak
f.     Mendukung Pertanian Organik
g.    Media Pelatihan Kematangan Emosional
h.    Penghasil Bahan Makanan Yang Nikmat
i.      Mendukung Kematangan Intelektual
j.      Alat Penabur Benih Tanaman
k.    Penggandaan Modal
l.      Alat Pengendali Kebakaran Hewan
m.  Media Pemasaran Produk
n.    Mendukung Pelaksanaan Acara Keagamaan
o.    Tenaga Kerja Pengolahan Lahan.



PELAJARAN BERMAKNA DARI RUMINANSIA
Ruminansia sebagai ternak yang menyediakan reaktor biologis yang sangat kompleks dapat dijadikan sebagai acuan dalam melaksanakan penelitian dan pengembangan teknologi pengolahan pakan berserat tinggi (roughage). Contohnya, hasil ikutan pertanian (jerami jagung, jerami padi, kulit buah, sekam, dan pucuk tebu), serta hasil ikutan industri seperti lumpur sawit, ampas tebu, dan lain – lain.
Perkembangan penelitian pengolahan berbagai hasil ikutan pertanian dan hasil ikutan industri sebagai pakan dalam meningkatkan daya cernanya baru sebatas penggunaan bahan secara parsial atau sendiri – sendiri. Misalnya penggunaan amonia (NH3), penggunaan basa, penggunaan asam, penggunaan mikroorganisme, dan pengolahan secara fisik. Belum dilaksanakan seperti yang terjadi pada rumen-reticulum dimana pengolahan pakan dilaksanakan secara holestik mulai dari penggilingan, penggunaan amonia (NH3), pemanfaatan bakteri dan protozoa (fermentasi), penggunaan asam organik (asam asetat, asam propionat, asam butirat dan asam organik laninnya).
Dalam proses fermentasi di rumen – reticulum, terbentuk pula gas methane dan karbondioksida (CO2), tetapi sampai sekarang belum ada penelitian yang mengidentifikasi apakah methane (NH4) dan karbondioksoda (CO2) ini mempunyai peranan dalam membongkar ikatan lignosellulosa pada dinding sel tanaman. Jadi, dapat disimpulkan bahwa berbagai faktor secara bersama memungkinkan pencernaan dinding sel tanaman dapat terjadi untuk meningkatkan daya cerna pakan dalam rumen.
NUTRISI DAN PAKAN
Agar pakan dapat bermanfaat bagi ternak untuk menghasilkan suatu produk, maka pakan tersebut pula diketahui zat – zat yang dikandungnya.
1.    Air
Kehilangan 1/10 bagian air, akan menyebabkan kematian. Beberapa fungsi air adalah sebagai pelarut, tranportasi, sebagai hidrolisis, dan sebagai pelicin.
2.    Karbohidrat
Karbohidrat adalah gabungan karbon dengan air, sekitar ¾ bahan kering dari tanaman adalah karbohidrat.
3.    Protein
Protein mengandung unsur C (Carbon), H ( Hidrogen), O (Oksigen ), N (Nitrogen ) dan sebagian mengandung S (Shulfur), P (Phosphor), dan Fe (Besi).
4.    Lemak
Lemak tidak larut dalam air, tetapi larut dalam ether. Lemak terdiri atas asam lemak jenuh.
5.    Vitamin
Vitamin adalah zat organik esensial yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit. Vitamin digolongkan dalam dua golongan, yaitu yang larut dalam air dan yang larut dalam lemak.
6.    Mineral
Mineral penting untuk pembentukan tulang dan gigi serta memegang peranan penting dan fungsi phisiologis dalam tubuh.
EVALUASI BAHAN PAKAN
Jenis evaluasi bahan pakan yang dapat dilakukan adalah evaluasi secara fisik, evaluasi secara biologis, evaluasi secara kimia dan evaluasi secara ekonomi. Disamping evaluasi tersebut, perlu juga dilakukan survey mengenai ketersediaan bahan pakan sepanjang tahun dan lokasi sumber bahan pakan tersebut.
1.    Evaluasi Secara Fisik
a.    Evaluasi Secara Makro (struktur, warna, bau dan rasa dari bahan tersebut)
b.    Evaluasi Secara Mikro (menggunakan mikroskop)
2.    Evaluasi Secara Kimia
a.    Metode Proksimasi Analisis (Proximate Analysis)
b.    Metode Van Soest
c.    Metode Animo Acid Analyzer
d.   Metode Bom Calorymeter
e.    Metode Atomic Absorbtion
f.     Analisis Kandungan Vitamin
g.    Analisis Kandungan Berbagai Zat Anti Nutrisi
3.    Evaluasi Secara Biologi
a.    Palatabilitas
b.    Daya Cerna
c.    Penyerapan
d.   Angka Manfaat
4.    Evaluasi Secara Ekonomi
Perubahan Pakan ( Feed Conversion) dan Efesiensi Pakan.
KAPASITAS TERNAK
Ternak sebagai industri biologis, kapasitasnya ditentukan oleh alat pencernaannya dan dalam mengkonversi pakan menjadi produk ternak seperti daging, susu, telur, bulu dan tenaga ditetntukan oleh genetik potensialnya. Apabila ditinjau dari alat pencernaannya, pada umumnya ternak dibagi dalam dua golongan yaitu ternak berperut empat dan ternak berperut satu. Sedangkan bila dilihat dalam memanfaatkan pakan, maka ternak dibagi dalam tiga golongan yaitu herbivora (pemakan hijauan), karnivora (pemakan daging) dan omnivora (pemakan segala).
Ternak herbivora pada umumnya berperut empat atau biasa disebut ternak ruminansia karena mempunyai rumen kecuali kuda. Saluran alat pencernaan secara umum terdiri atas mulut, usophagus, lambung, usus halus (duodenum dan ileum), cekum, usus besar (colon dan rektum), dan anus. Ternak ruminansia mempunyai empat komponen alat pencernaan sebelum usus halus.
Proses pencernaan pada ternak rumianansia sama dengan proses pencernaan ternak non ruminansi pada abomasum (lambung) usus halus dan usus besar, yang sangat berbeda adalah pada daerah rumen.
a.    Pencernaan Karbohidrat di Rumen
Pati memproduksi lebih banyak asam propionat yang diperuntukkan untuk pembentukan lemak daging sedangkan cellulose memproduksi lebih banyak  asam aselat yang diperuntukkan untuk lemak susu.
b.    Pencernaan Protein di Rumen
Proses pencernaan dan pembentukan protein dari urea saliva.
CARA PENYUSUNAN RANSUM
1.    Beberapa Hal Yang perlu Diperhatikan dalam Menyusun Ransum
a.    Konversi Kandungan Zat Makanan Dengan Bahan Kering
b.    Perimbangan Zat – Zat Pakan
c.    Genetik Potensial
2.    Perbandingan Cara Penyusunan Ransum antara Ternak Berperut Satu dengan Ternak Ruminansia
a.       Ternak Berperut Satu
Dapat dilakukan dengan metode coba – coba, metode segi empat dan formulasi ransum memanfaatkan komputer.
b.    Ternak Berperut Empat
Cara penyusunan ransum ternak ruminansia adalah penentuan kebutuhan, hasil analisis bahan makanan yang akan digunakan.
3.    Manajemen Produksi
Menjalankan suatu usaha peternakan sapi potong dapat dilaksanakan dengan berbagai cara, yaitu membangun usaha dengan memanfaatkan fasilitas yang ada, membangun usaha sapi daging dengan sistem ranch dan membangun usaha dengan sistem feedlot.
4.    Penggunaan Berbagasi Bahan Pakan
Untuk dapat memanfaatkan bahan pakan, perlu diketahui kekurangan dan kelebihan bahan pakan tersebut agar ternak tidak mengalami kekurangan zat pakan atau mengalami keracunan. Contoh bahan pakan untuk ruminansia adalah rumput gajah, rumput Brachiaria, rumput gajah mini dan gamal.
STRATEGI PENGEMBANGAN TERNAK RUMINANSIA UNTUK PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT

1.    Kerangka Kerja
Kerangka kerja meliputi analisis situasi, perencanaan, implementasi perencanaan yang telah dibuat, pelaksanaan monitoring dan evaluasi. Agar kerangka kerja terlaksana dengan baik, maka sebaiknya dibentuk Community Development (CD) worker.
2.    Pengembangan Kemampuan Komunikasi Nonverbal
Seorang ahli peternakan, perikanan, dan pertanian maupun ahli lainnya harus dapat berkomunikasi dengan komoditi yang digelutinya. Ternak merupakan makhluk hidup yang tidak dapat berkomunikasi secara verbal, maka dari itu seorang ahli maupun pengusaha peternakan harus mampu berkomunikasi secara nonverbal.
3.    Ruminansia Sebagai Subsistem dari Sistem Pertanian Terpadu
Masa depan pengembangan sektor pertanian dalam meningkatkan pendapatan masyarakat sepatutnya diarahkan pada sistem pertanian terpadu. Manfaat dari penerapan sistem pertanian terpadu adalah efesiensi penggunaan lahan, mengatasi gagal panen, dan mengatasi fluktuasi harga.
4.    Ruminansia Sebagai Simpul Pembangunan
Ruminansia disebut sebagai simpul pembangunan karena memiliki daya sebar luas dari usaha peternakan berupa produk daging, susu, kulit, bulu, tulang, tanduk, pupuk organik dan tengan kerja yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.





Saya sudah menyelesaikan tugas dengan baik dan hasil kerja sendiri dengan usaha semaksimal mungkin sehingga saya berharap mendapatkan nilai A.
Terima Kasih...
















Tugas Individu
Mata Kuliah : Ransum Ruminansia
Dosen              : Prof. Dr. Ir. H. Sjamsuddin Rasjid, M.Sc.



RINGKASAN MATERI BUKU:
THE GREAT RUMINANT


OLEH:
SYAHRIANA SABIL
NIM I111 11 273
KELAS GANJIL



Logo UNHAS


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar