Kamis, 02 Januari 2014

praktikum analisis in vitro laporan



Laporan Praktikum
Ransum Ruminansia

 PRAKTIKUM ANALISIS IN VITRO

OLEH
KELOMPOK VI (ENAM) / KELAS GANJIL

SYAHRIANA SABIL                      NIM I111 11 273
MUH. QURNALDY HAKIM         NIM I111 11 001
RACHMAT BUDIANTO                NIM I111 11 291
BUSRAH HISAM ARDANS           NIM I111 11 037
INDRI PUTRI UTAMI                    NIM I111 11 015
JIHADUL FAJRI                             NIM I111 11 333
INDIRWAN                                      NIM I111 11 253
ANDI NURUL AINUN                    NIM I111 11 045
ERIK SANDER                                NIM I111 11 267
ANNAS ODDING                            NIM I111 11 253
SYAMSURIA                                                NIM I111 11 293
KARTIKA                                         NIM I111 11 327
ABDI ERIANSYAH                         NIM I111 11 301
RUSLAN                                           NIM I111 11 903


 












LABORATORIUM HERBIVORA
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
PROSEDUR KERJA
Peosedur kerja praktikum In Vitro adalah pertama – tama menyiapkan semua bahan dan alat dalam keadaan bersih, setelah itu menimbang sampel ± 0,5 gram jerami padi (JP), jerami fermentasi (JF) dan jerami murbei (JM) masing – masing dua sampel sehingga diperoleh hasil penimbangan sebagai berat bahan kering awal (BK awal) dengan JP1 = 0, 5018 gram,  JP2 = 0,5010 gram, JF1 = 0,5011 gram,  JF2 = 0,5018 gram, JM1 = 0,5022 gram, dan JM2 = 0,5005 gram, lalu memasukkan ke dalam botol yang sudah diberi tanda pengenal dan ditutup. Selanjutnya, menimbang enam buah kertas saring satu persatu lalu dimasukkan ke oven selama empat hari. Membuat larutan buffer (larutan saliva buatan) yang terdiri dari larutan :
NaHCO3                            = 9,8 gram X 2
Na2HPO4  . 7 H2O       = 7,0 gram X 2
KCl                             =  0,57 gram X 2
NaCl                            = 0,47 gram X 3
MgSo4 . 7H2O             = 0, 12 gram X 2
CaCl2                           = 0,04 gram
                                                                   +
                                    = 1000 gram
Campuran larutan tersebut disebut larutan McDoughall. Untuk perbandingan MgDoughall dengan cairan rumen adalah 4 : 1 ( 40 ml MgDoughall : 10 ml cairan rumen). Selanjutnya memasukkan satu liter larutan dari 900 ml larutan MgDoughall ke dalam tabung dan cairan rumen yang masih hangat sebanyak 225 ml sambil pH disesuaikan dengan fiksasi gas CO2 hingga mencapai pH 6 sampai 7. Setelah itu, dimasukkan ke dalam botol masing – masing 20 ml cairan rumen + cairan McDoughall dan ditutup rapat dengan menggunakan alat suntik sebagai rumen buatan. Selanjutnya botol – botol yang berisi sampel bahan dan larutan McDoughall difermentasi menggunkan waterbath dengan suhu 390 C selama 48 jam dan mengamati pertambahan gas yang dihasilkan setiap 2 jam, 8 jam, 24 jam dan 48 jam. Setelah 48 jam, mengukur masing – masing pH sampel lalu disaring dengan menggunakan kertas saring yang telah diovenkan dan dibiarkan hingga semua isi botol tersaring hingga kering lalu diovenkan pada suhu 1050 C bersama sampel dalam cawan porselin selama 24 jam. Setelah itu, menimbang masing – masing  kertas saring bersama sampel satu – persatu.






















PEMBAHASAN PROSEDUR KERJA
Kecernaan in vitro adalah teknik pengukuran degradabilitas dan kecernaan evaluasi ransum secara biologis dapat dilakukan secara laboratorium dengan meniru seperti kondisi sebenarnya. Pada dasarnya teknik In vitro adalah meniru kondisi rumen. Kondisi yang dimodifikasi dalam hal ini antara lain larutan penyangga, bejana fermentasi, pengadukan dan fase gas, suhu fermentasi, pH optimum, sumber inokulum, kondisi anaerob, periode fermentasi serta akhir fermentasi (Sutardi et al., 1983) dalam Yuki (2012).
Pada praktikum In vitro semua bahan harus sesuai takaran dan alat dalam keadaan bersih agar supaya hasil praktikum diperoleh dengan tepat. Penimbangan  ± 0,5 gram jerami padi (JP), jerami fermentasi (JF) dan jerami murbei (JM) masing – masing dua sampel bertujuan agar kita dapat mengetahui berat awal kadar bahan kering dalam menentukan kecernaan bahan kering pakan. Botol yang dijadikan sebagai tabung fermentor untuk tempat inkubasi diberi tanda pengenal bertujuan untuk menandai isi sampel masing – masing tabung. Enam buah kertas saring yang ditimbang bertujuan sebagai penyaring dalam memisahkan sisa bahan kering dan airnya setelah inkubasi. Larutan buffer (larutan saliva buatan) yang disebut larutan McDoughall berfungsi untuk mempertahankan pH rumen sehingga tidak mudah turun oleh asam-asam organik yang dihasilkan selama proses fermentasi sebanyak 900 ml merupakan larutan penyangga dan cairan rumen yang masih hangat sebanyak 225 ml sebagai sumber mikroorganisme diperoleh dari rumah potong hewan. Gas CO2 bertjuan untuk menciptakan susasana anaerob dengan pH 6,8 sampai 6,9 sesuai dengan saran Tilley dan Terry (1963) dalam Ismartoyo (2011) yang menyatakan bahwa temperatur inkubasi antara 380 C - 390C dan pHnya antara 6,8 - 6,9, temperatur dan pH yang tidak tepat akan menghasilkan fermentasi yang kurang baik. Alat suntik dijadikan sebagai sebagai rumen buatan. Botol – botol sebagai tabung fermentor yang berisi sampel bahan dan larutan McDoughall diletakkan pada alat yang disebut waterbath dengan suhu 390 C selama 48 jam dan mengamati pertambahan gas yang dihasilkan setiap 2 jam, 8 jam, 24 jam dan 48 jam sebagai bentuk adanya peoses fermentasi pakan yang terjadi dalam rumen, hal ini sesuai pendapat Ismartoyo (2011) bahwa umumnya diperlukan waktu 48 jam untuk ternak ruminansia menyelesaikan proses pencernaan dan mengeluarkan sisa pakan melalui feses. Setelah inkubasi selama 48 jam, fermentasi dihentikkan. Mengangkat tabung fermentasi dari penangas air dan ditambahakan 25 ml aquades untuk mengakhiri fermentasi. Tabung fementasi disentrifus selama 8 - 10 menit untuk memisahkan cairan dengan endapan.  Penyaringan dengan menggunakan kertas saring yang telah diovenkan dan dibiarkan hingga semua isi botol tersaring hingga kering lalu diovenkan kembali bersama sampel dalam cawan porselin selama 24 jam bertujuan untuk mengetahui berat akhir dari sampel pakan yang telah dicerna pada rumen.






PENENTUAN NILAI DEGRADASI BAHAN
1.    Data pH
Berikut adalah hasil pengamatan pengukuran pH pada sampel jerami padi, jerami fermentasi, jerami murbei dan blanko.
Tabel 1. Data Hasil Pengamatan pH
Nomor
Sampel Bahan
pH
1.
Jerami Padi (JP1)
6,99
2.
Jerami Padi  (JP2)
7,07
3.
Jerami Fermentasi  (JF1)
6,85
4.
Jerami Fermentasi  (JF2)
6,96
5.
Jerami Murbei  (JM1)
6,85
6.
Jerami Murbei  (JM2)
6,76
7.
Blanko I
7,18
8.
Blanko
7,01
Sumber : Data Hasil Praktikum Analisis In Vitro, 2013.
Berdasarkan data hasil pengamatan pH pada tabel 1 diketahui bahwa pH pada masing – masing sampel hasilnya setelah inkubasi berbeda yang mana sebelum diinkubasi sampel memliki pH 6,8 – 6,9. Berdasarkan data di atas diketahui bahwa pH tertinggi dimiliki sampel blanko I yaitu dengan 7,18 dan terendah pada jerami murbei II dengan pH 6,76. Perubahan pH setelah inkubasi disebabkan oleh produksi asam lemak terbang (VFA) yang diakhir masa inkubasi. Hal ini dudukung oleh pendapat Menke dan Steingass (1989) dalam Ismartoyo (2011) bahwa perubahan pH setelah inkubasi disebabkan oleh produksi asam lemak terbang (VFA) yang tinggi diakhir masa inkubasi sehingga pH menurun dan produksi asam lemak terbang (VFA) yang rendah diakhir masa inkubasi sehingga pH meningkat. Penurunan pH rumen di bawah 5.5 akan menghambat sekresi saliva, mengeliminasi protozoa dan menghambat perkembangbiakan bakteri penghasil enzim pencerna karbohidrat struktural (JeanBlain 1991). Akibatnya, keseimbangan sistem rumen menjadi terganggu. Bahkan, konsentrasi RAC (readily available carbohydrate) yang ekstrim dalam sistem rumen dapat mengakibatkan kematian (Stewart 1991; Wiryawan & Brooker 1996).

2.    Data Produksi Gas
Berikut adalah hasil pengamatan pengukuran pH pada sampel jerami padi, jerami fermentasi, jerami murbei dan blanko.
Tabel 2. Data Hasil Pengamatan Produksi Gas
Nomor
Sampel Bahan
Produksi Gas (ml)
2 Jam
8 Jam
24 Jam
48 Jam
1.
Jerami Padi (JP1)
15
17
17
17
2.
Jerami Padi  (JP2)
13
14
14
14
3.
Jerami Fermentasi (JF1)
12
13
13
13
4.
Jerami Fermentasi (JF2)
12
12
12
12
5.
Jerami Murbei  (JM1)
4
7
8
26
6.
Jerami Murbei  (JM2)
9
9
9
9
7.
Blanko I
11
12
12
12
8.
Blanko II
12
12
12
12
Total Produksi Gas
86
96
97
115
Sumber : Data Hasil Praktikum Analisis In Vitro, 2013.
Berdasarkan hasil pengamatan produksi gas pada tabel 2 di atas diketahui bahwa laju degradasi pakan terus mengalami peningkatan, pada 2 jam inkubasi, diperoleh produksi gas 86 ml, pada waktu 8 jam meningkat menjadi 96 ml dan terus meningkat menjadi 97 ml setelah 24 jam selanjutnya mencapai 115 ml pada akhir inkubasi 48 jam. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama waktu inkubasi maka semakin tinggi produksi gas yang dihasilkan dan menunjukkan bahwa aktivitas mikroba rumen dalam mendegradasi pakan semakin meningkat. Menurut pendapat Menke dan Steingass (1989) dalam Ismartoyo (2011) yang menyatakan perlu dicatat bahwa tidak semua produksi gas berasal dari proses fermentasi sampel pakan, tetatpi CO2 mungkin juga berasal dari larutan buffer sebagai akibat dari perubahan pH (penurunan pH) sepanjang inkubasi. Menurut Prihartini (2011) bahwa tingginya produksi gas merupakan indikator terbentuknya produksi asam lemak terbang (VFA) terutama asam asetat dan propionat. Menurut Syahrir (2008) bahwa tingkat produksi gas mencerminkan efektivitas proses fermentasi, semakin tinggi produksi gas, proses fermentasi semakin baik

3.    Data Kecernaan Pakan
Adapun data perhitungan kecernaan pakan adalah sebagai berikut.
Tabel 3. Data Hasil Pengamatan Kecernaan Pakan
NO
Kode Sampel
Keterangan Sampel
% Kecernaan Bahan Kering
1.
JP 1
Jerami Padi 1
32,965
2.
JP 2
Jerami Padi 2
44,892
3.
JF 1
Jerami Fermentasi 1
88,937
4.
JF 2
Jerami Fermentasi 2
65,896
5.
JM 1
Jerami Murbei 1
71,639
6.
JM 2
Jerami Murbei 2
83,298
Sumber : Data Hasil Praktikum Analisis In Vitro, 2013.
Berdasarkan data pada tabel 3, diketahui bahwa persentase kecernaan bahan kering pada jerami padi 1 adalah 32,965 % dan pada jerami 2 adalah 44, 892 %. Dilihat dari standar nilai kecernaan bahan kering jerami padi, tampak bahwa kecernaan bahan kering yang diperoleh pada jerami padi 1 masih sangat jauh dari standarisasi, sedangkan pada sampel jerami 2 sudah mendekati nilai standar. Hal ini sesuai dengan laporan penelitian oleh Hogan dan Leche (1981) dalam penelitian Basuni (2008) yang melaporkan bahwa komponen jerami padi yang dapat dicerna secara in vitro hanya 45 – 50 % saja. Rendahnya kandungan nutrisi menyebabkan penggunaan jerami padi sebagai pakan ruminansia menjadi terbatas.
Kecernaan bahan kering jerami fermentasi 1 adalah 88,937 % dan jerami fermentasi 2 adalaha 65,986 % , rata – rata KCBK kedua sampel adalah 77,417 yang menunjukkan bahwa nilai kecernaan bahan pakan jerami fermentasi lebih tinggi dibandingkan jerami padi. Tingginya KCBK jerami fermentasi sesuai dengan hasil penelitian Prihartini (2011) yang menyatakan bahwa produksi gas jerami padi fermentasi  lebih rendah dibandingkan dengan kontrol, walaupun degradasi BK dan BO meningkat dibandingkan kontrol. Hasil ini menunjukkan fermentasi BO menjadi VFA rendah dan  tidak digunakan sebagai sumber energi bagi ternak tetapi BO terfermentasi lebih banyak dimanfaatkan untuk sintesis protein mikroba rumen. 
Pada sampel jerami murbei 1 diperoleh KCBK 71,639 % dan pada jermi murbei 2 diperoleh KCBK 83,298 % dan dari rata – rata keduanya diperoleh 77,469 %. Hal ini menunjukkan bahwa jerami murbei memiliki nilai KCBK lebih tinggi daripada jerami padi dan jerami padi fermentasi, yang diikuti dengan rata – rata produksi yang lebih tinggi pula. Hal ini menunjukkan bahwa jerami murbei yang difermentasi dalam rumen ternak dimnafaatkan sebagai sumber energi, hal ini sesuai dengan hasil penelitian Prihartini (2011), bahwa nilai kecernaaan BK dan nilai produksi gas yang tinggi menunjukkan bahwa BO yang dicerna ruminansia dimanfaatkan sebagai pemenuhan energi untuk ternak.





















KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum dan pembahasan data, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.    Perubahan pH setelah inkubasi disebabkan oleh produksi asam lemak terbang (VFA) yang diakhir masa inkubasi.
2.    Semakin lama waktu inkubasi maka semakin tinggi produksi gas yang dihasilkan dan menunjukkan bahwa aktivitas mikroba rumen dalam mendegradasi pakan semakin meningkat.
3.    Fermentasi BO menjadi asam lemak terbang yang rendah menunjukkan bahwa BO tersebut dimanfaatkan untuk sintesis protein mikroba rumen, dan jika menghasilkan asam lemak tinggi, berarti BO tersebut dimanfaatkan sebagai energi untuk ternak.













DAFTAR PUSTAKA
Basuni, Y. 2008. Skripsi Judul:  Aktivitas Selulase Dari Ganoderma Lucidum Yang Diinkubasikan Dalam Media Jerami Padi. Fakultas Peternakan Insitut Pertanian Bogor. Bogor.

Ismartoyo. 2011. Degradasi Pakan Ternak Ruminansia. Brilian Internasional. Surabaya.

Prihartini. 2011. Jurnal Protein. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang.

Syharir, S. 2008. Disertasi dengan Judul : Potensi Daun Murbei Dalam Meningkatkan Nilai Guna Jerami Padi Sebagai Pakan Sapi Potong. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Yuki. 2012. Laporan In Vitro. http://masterternak.blogspot.com/2012/07/laporan-rr_26.html. Diakses pada tanggal 10 April 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar