Kamis, 02 Januari 2014

mineral makro dalam ransum ruminansia



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Ternak ruminansia sangat berbeda dengan ternak mamalia lain karena ruminansia mempunyai lambung besar yaitu abomasum, lambung muka yang membesar dan memiliki tiga ruangan yaitu rumen, reticulum dan omasum. Lambung ruminansia berkembang karena sebagai tempat fermentasi serat kasar yang dimakannya. Ternak ruminansia sebagaimana ternak lainnya memerlukan gizi sesuai dengan stadia fisiologisnya. Kebutuhan gizi saat bunting tentu berbeda dengan kebutuhan untuk laktasi maupun pejantan atau anakan, karena enersi yang dibutuhkan untuk kelangsungan proses tersebut juga berbeda.
Nutisi (zat gizi) merupkan ikatan kimia yang yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya yaitu energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan. Nutrisi (zat gizi) yang terkandung dalam pakan akan masuk kedalam tubuh hewan yang dapat digunakan untuk menunjang fungsinya organ dalam rangkaian proses pertumbuhan/ perkembangan, reproduksi dan aktivitas biologi lainnya. Nutrisi tersebut yaitu energi, viamin-vitamin, mineral dan air. Nutrisi tersebut dipeoleh dari ransum yang dberikan kepada ternak. Kebutuhan ternak akan pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah nutrisi setiap harinya sangat tergantung pada jenis ternak, umur, fase pertumbuhan (dewasa, bunting dan menyusui), kondisi tubuh, dan lingkungan tempat hidupya, serta bobot badannya
Mineral merupakan unsur peting dalam tanah, bebatuan, air, dan udara. Sedangkan pada tubuh makhluk hidup sendiri mineral  merupakan suatu komponen penyusun tubuh, 4-5% berat badan kita sendiri atas mineral, sekitar 50% mineral tubuh terdiri atas kalsium, 25% fosfor,dan 25% lainnya terdiri atas mineral lain.
Berdasarkan jumlah yang dibutuhkan ternak, mineral digolongkan dalam dua kelompok yaitu makro mineral antara lain  : Kalsiun (Ca), Fosfor (P), Kalsium (K), Magnesium (Mg), Natrium (Na), Clor (Cl), dan Mineral mikro antara lain : Zn (seng), molybdenum (Mo), mangan (Mn), kobalt (Co), Krom (Cr), nikel (Ni), dan yodium (I), mineral makro dibutuhkan lebih banyak dibandingkan dengan mineral mikro. Mineral tidak dapat dibuat didalam tubuh hewan, sehingga harus disediakan dalam rasum baik dalam hijauan, kosentrat, maupun pakan suplemen. Hal inilah yang melatarbelakangi dilakukannya penyusunan makalah yang berjudul “Mineral Makro Dalam Ransum Ruminansia”.

B.   Tujuan dan Kegunaan
Tujuan penyusunaan makalah ini adalah untuk mengetahui jumlah kebutuhan mineral makro pada ransum ruminansia.
Kegunaan penyusunaan makalah ini adalah agar dapat mengetahui jumlah kebutuhan mineral makro pada ransum ruminansia.




BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Mineral
Mineral merupakan zat makanan yang berperan dalam metabolisme tubuh terutama pada ternak dan keberadaannya dalam tubuh ternak sekitar 5 % dari bobot tubuh ternak. Mineral secara umum diklasifikasikan menjadi dua golongan berdasarkan jumlah yang dibutuhkan dalam pakan yaitu mineral makro dan mikro. Murtidjo (2007) menambahkan bahwa mineral esensial diklasifikasikan kedalam mineral makro dan mineral mikro tergantung kepada konsentrasi mineral tersebut dalam tubuh hewan atau jumlah yang dibutuhkan dalam makanan.
Mineral bagi ternak ruminansia, selain digunakan untuk memenuhi  kebutuhannya sendiri, juga digunakan untuk mendukung dan memasok kebutuhan mikroba rumen. Apabila terjadi defisiensi salah satu mineral maka aktifitas fermentasi mikroba tidak berlangsung optimum sehingga akan berdampak pada menurunnya produktivitas ternak. Mineral secara umum diklasifikasikan menjadi 2 golongan berdasarkan jumlah yang dibutuhkan dalam pakan  yaitu mineral makro yaug dibutuhkan dalam jumlah lebih besar dan berada dalam tubuh ternak pada level yang lebih tinggi yaitu lebih besar dari 100 ppm yang dinyatakan dalam persen (%) dan mineral mikro yang  dibutuhkan dalam jumlah lebih sedikit  yaitu lebih kecil dari 100 ppm yang dinyatakan dalam ppm atau ppb. Mineral makro meliputi Ca, P, Mg, Na, K, S dan Cl (Arora, 1995).
Mineral mempunyai  peranan antara lain sebagai komponen struktural organ tubuh dan jaringan, sebagai katalis dalam sistem enzim dan hormon, berperan dalarn konstituen cairan tubuh dan jaringan atau sebagai larutan garam dalam darah dan cairan tubuh lainnya yang berhubungan dengan tekanan osmotik dan keseimbangan asam-basa. Mineral makro berfungsi dalam pembentukan struktur sel dan jaringan, keseimbangan cairan dan elektrolit dan berfungsi dalam cairan tubuh baik intraseluler dan ekstraseluler (Kerley, 2000).
Kekurangan mineral makro dapat menyebabkan terjadinya penurunan produksi dan kualitas susu yang dihasilkan. Pemberian mineral makro yang cukup dalam ransum sapi juga dapat meningkatkan aktivitas mikroba rumen yang pada akhirnya akan meningkatkan metabolisme dari sapi itu sendiri sehingga akan dihasilkan produksi yang meningkat (Kuchel, P. dan Gregory B., 2006).

B.  Suplementasi Mineral
Mineral sangat penting untuk kelangsungan hidup ternak. Hampir semua mineral ditemukan dalam jaringan ternak dan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam proses metabolisme ternak. Suplementasi berbagai bahan pada pakan ternak menghasilkan bobot ternak yang meningkat. Suplemen mineral dianjurkan untuk memenuhi beberapa prinsip, antara lain (1) campuran akhir minimal mengandung 6-8% total P; (2) rasio Ca : P tidak melampaui 2 : 1; (3) dapat menyuplai 50% elemen mikro Co, Cu, I, Mn dan Zn; (4) bentuk mineral yang digunakan adalah yang mudah digunakan dan dihindarkan dari kontaminasi dengan mineral-mineral beracun (misalnya sumber P yang terkontaminasi dengan F); (5) suplemen tersebut hendaknya cukup palatable untuk menjamin tingkat konsumsi yang baik; (6) perlu diperhatikan ketepatan menimbang, pencampuran yang homogen dan lain sebagainya; (7) besar partikel hendaknya lebih kecil dan seragam sehingga pencampuran dapat dilakukan secara homogen; (8) perkiraan kebutuhan yang cukup baik dan akurat dalam hal kebutuhan; (9) daya guna setiap elemen yang digunakan, dan (10) tingkat konsumsi hewan (Poedjiadi, 1994).
Mineral mempunyai peranan penting dalam meningkatkan aktivitas mikroba rumen. Zn dapat mempercepat sintesa protein oleh mikroba melalui pengaktifan enzim-enzim mikroba. Suplementasi Zn dapat meningkatkan ketahanan sapi perah terhadap mastitis. Mineral Co berperan dalam sintesis vitamin B12. Mineral Cu dan Co bersama-sama dapat memperbaiki daya cerna serat kasar. Sulfur adalah salah satu unsur penting yang mempengaruhi proses fermentasi dalam rumen (Sudarmo, 2008).

C.  Kebutuhan Mineral Makro Pada Ternak Ruminansia
Beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan mineral pada ternak adalah tingkat produksi, umur, konsumsi dan ketersediaan mineral tersebut. Kebutuhan mineral makro berdasarkan bobot badan (BB) setiap individu ternak disajikan tabel berikut dan kebutuhan mineral makro pada sapi perah dapat dilihat pada Tabel 2, serta kebutuhan mineral pada sapi  pedaging ditunjukkan pada Tabel 3. Berdasarkan kedua tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa  semakin tinggi produksi ternak semakin tinggi pula kebutuhan akan mineral  yang harus dipenuhi. Kebutuhan mineral antara sapi perah dan sapi pedaging juga  menunjukkan adanya perbedaan. Kebutuhan mineral untuk sapi perah lebih tinggi daripada sapi pedaging karena sapi perah membutuhkan mineral yang tinggi untuk  produksi susu selain memenuhi kebutuhan hidup pokok (Suryahadi, 1997).
Tabel 1. Kebutuhan Mineral Makro Pada Ternak Ruminansia
Mineral Makro
g/kg Bobot tubuh
Kalsium (Ca)
Fosfor (P)
Magnesium (Mg)
Sulfur (S)
Natrium (Na)
Kalium (K)
Klor (Cl)
15
10
0,4
1,5
1,6
2
1,1
Sumber : Suryahadi (1997).
Tabel 2. Kebutuhan Mineral untuk sapi perah
Mineral
Jantan
Dara
Awal Laktasi
Masa Kering
Laktasi Produksi
7-13 liter
Laktasi
Produksi
13-20 liter
Ca (%)
P (%)
Mg(%)
S (%)
Na (%)
0,30
0,19
0,16
0,16
0,65
0,41
0,30
0,16
0,16
0,65
0,77
0,48
0,25
0,25
1
0,39
0,24
0,16
0,16
0,65
0,43
0,28
0,20
0,20
0,90
0,51
0,33
0,20
0,20
0,90
Sumber : Suryahadi (1997).
Tabel 3. Kebutuhan Mineral Pada Sapi Pedaging
Mineral
Growing Finishing
Dara
Awal Laktasi
Ca(%)
P(%)
Mg (%)
S(%)
Na (%)
0,13
0,05
0,10
0,15
0,06 -0,08
0,27
0,19
0,12
0,15
0,06-0,08
0,16
0,09
0,20
0,15
0,10
Sumber : Suryahadi (1997).
1.    Kalsium (Ca)
Kalsium (Ca) merupakan elemen mineral yang paling banyak dibutuhkan oleh tubuh ternak. Ca memiliki peranan penting sebagai penyusun tulang dan gigi. Sekitar 99 % dari total tubuh terdiri dari Ca. Selain itu Ca berperan sebagai penyusun sel dan jaringan. Fungsi Ca yang tidak kalah pentingnya adalah sebagai penyalur rangsangan-rangsangan syaraf dari satu sel ke sel lain. Jika ransum ternak pada masa pertumbuhan defisien Ca maka pembentukan tulang menjadi kurang sempurna dan akan mengakibatkan gejala penyakit tulang. Gejala penyakit tulang diantaranya adalah pembesaran tulang sendi dan tulang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan pada ransum ternak dewasa yang mengalami defisien Ca akan menyebabkan osteomalacia. Ca air susu cukup stabil walaupun defisiensi Ca, namun produksi susu akan turun (Sutama, 2009).
Ransum yang memiliki kadar K yang rendah akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin. Beberapa faktor makanan dapat membantu meningkatkan absorpsi Ca, sedangkan beberapa faktor lain dapat menurunkan absorpsi Ca oleh usus halus. Asam fitat dan asam oksalat dapat menurukan absorpsi mineral Ca dengan jalan mengikat Ca dan membentuk garam Ca yang tidak larut dalam lumen usus halus (Tillman, 1998).
2.    Fosfor (P)
Fosfor (P) merupakan mineral kedua terbanyak dalam tubuh dengan distribusi dalam jaringan yang menyerupai distribusi Ca. Fosfor memegang peranan penting dalam proses mineralisasi tulang. Fosfor mempunyai fungsi sangat penting bagi tubuh ternak diantara elemen mineral lainnya. Fosfor umumnya ditemukan dalam bentuk phospholipid, asam nukleat dan phosphoprotein. Kandungan P dalam tubuh ternak lebih rendah daripada kandungan Ca (Tillman, 1998).
Gejala defisiensi P yang parah dapat menyebabkan persendian kaku dan otot menjadi lembek. Ransum yang rendah kandungan P-nya dapat menurunkan kesuburan (produktivitas), indung telur tidak berfungsi normal, depresi dan estrus tidak teratur. Pada ternak ruminansia mineral P yang dikonsumsi, sekitar 70% akan diserap, kemudian menuju plasma darah dan 30% akan keluar melalui feses. Fosfor yang berasal dari makanan diabsorpsi tubuh dalam bentuk ion fosfat yang larut (PO4 -). Gabungan mineral P dan mineral Fe dan Mg akan menurunkan absorpsi P (Piliang, 2002). Asam fitat yang mengandung P ditemukan dalam bijibijian dapat mengikat Ca untuk membentuk fitat. Fitat yang terbentuk tidak dapat larut sehingga menghambat absorpsi Ca dan P. Dari seluruh jumlah P yang terdapat dalam makanan sekitar 30% melewati saluran pencernaan tanpa diabsorpsi. Seperti halnya dengan kalsium, maka vitamin D dapat meningkatkan absorpsi P dari usus halus (Tillman, 1998).
3.    Magnesium (Mg)
Tubuh hewan dewasa mengandung 0,05% Mg. Retensi dan absorpsi Mg pada sapi perah erat kaitannya dengan kebutuhannya. Enam puluh persen Mg dalam tubuh hewan terkonsentrasi di tulang sebagai bagian dari mineral yang mengkristal dan permukaan kristal terhidrasi. Mg berperan dalam membantu aktivitas enzim seperti thiamin phyrofosfat sebagai kofaktor. Ketersediaan Mg dalam ransum harus selalu tersedia. Perubahan konsentrasi Mg dari keadaan normal selama 2-18 hari dapat menyebabkan hipomagnesemia. Sekitar 30-50% Mg dari rata-rata konsumsi harian ternak akan diserap di usus halus. Penyerapan ini dipengaruhi oleh protein, laktosa, vitamin D, hormon pertumbuhan dan antibiotik (Poedjiadi, 1994).
Magnesium sangat penting peranannya dalam metabolisme karbohidrat dan lemak. Defisiensi Mg dapat meningkatkan iritabilitas urat daging dan apabila iritabilitas tersebut parah akan menyebabkan tetany. Defisiensi Mg pada sapi laktasi dapat menyebabkan hypomagnesemic tetany atau grass tetany. Keadaan ini disebabkan tidak cukupnya Mg dalam cairan ekstracellular, yaitu plasma dan cairan interstitial. Kebutuhan Mg untuk hidup pokok adalah 2-2,5 gram dan untuk produksi susu adalah 0,12 gram per milligram susu. Ransum yang mengandung 0,25% Mg cukup untuk sapi perah yang berproduksi tinggi (Arora, 1995).
4.    Sulfur (S)
Sulfur (S) merupakan komponen penting protein pada semua jaringan tubuh. Pada ruminansia 0,15% komponen jaringan tubuh terdiri atas unsur S, sedangkan pada air susu sebesar 0,03%. Pada hewan ruminansia terjadi sintesis asam-asam amino yang mengandung mineral S dengan vitamin B oleh mikroba di dalam rumen. Terdapat dua macam mekanisme metabolisme mineral S pada hewan ruminansia, yaitu mekanisme yang menyerupai mekanisme mineral S pada hewan-hewan monogastrik dan mekanisme yang dihubungkan dengan aktivitas mikroorganisme dalam rumen (Arora, 1995).
Kandungan mineral S pada tanaman hijauan dapat berkisar dari 0,04% sampai melebihi 0,3%. Bahan makanan yang mengandung protein tinggi akan mengandung kadar mineral S yang tinggi pula. Kadar S dalam ransum sebesar 0,20% diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan sapi perah laktasi. Hewan-hewan yang diberi ransum defisien dalam mineral sulfur akan menunjukkan penyakit anorexia, penurunan bobot badan, penurunan produksi susu, kekurusan, kusut, lemah dan akhirnya mati. Tanda-tanda tersebut berhubungan erat dengan menurunnya fungsi rumen dan fungsi sistem peredaran darah (Kuchel, P. dan Gregory B., 2006).
5.    Kaliaum (K)
Kalium memegang peranan dalam pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit serta keseimbangan asam basa. Bersama kalium, kalium berperan dalam transmisi saraf dan relaksasi otot. Di dalam sel, kalium berfungsi sebagai katalisator dalam banyak reaksi biologik, terutama dalam metabolisme energi dan sintesis glikogen dan protein. Kalium berperan penting dalam pertumbuhan sel. Taraf kalium dalam otot berhubungan dengan massa otot dan simpanan glikogen, oleh karena itu bila otot berada dalam pembentukan dibutuhkan kalium dalam jumlah cukup.  Kalium merupakan bagian esensial semua sel hidup, kelium banyak terdapat dalam bahan makanan, baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Kekurangan kalium jarang terjadi (Poedjiadi, 1994).
Kebutuhan minimum akan kalium ditaksir sebanyak 2000 mg sehari. Kalium tidak ditemukan tersendiri di alam, tetapi diambil melalui proses elektrolisis hidroksida. Metoda panas juga lazim digunakan untuk memproduksi kalium dari senyawa-senyawa kalium dengan CaC2, C, Si, atau Na. Kekurangan kalium dapat terjadi karena kebanyakan kehilangan melalui saluran cerna atau ginjal. Kehilangan banyak melalui saluran cerna dapat terjadi karena muntah-muntah, dieare kronis atau kebanyakan menggunakan laksan (Kerley, 2000).
Hewan kebutuhan K untuk produksi susu, pemeliharaan cairan tubuh, transmisi impuls saraf, kontraksi otot, dan pemeliharaan sistem enzim. Kandungan K dalam pakan berbeda sedikit di antara jenis rumput. Isi K pakan biasanya akan memenuhi kebutuhan sapi perah selama suplemen butir tidak lebih dari 40-50% dari konsumsi bahan kering total. Karena kandungan K dalam hijauan bisa mengurangi penyerapan Mg hewan dari diet (Kerley, 2000).
6.    Natrium (Na)
Hewan membutuhkan Na untuk glukosa dan transportasi asam amino, mempertahankan cairan tubuh, dan asam-basa keseimbangan Na. Pastura berisi hanya 0,029%. Jika garam tidak ditambah untuk sapi dan domba, Na bisa menjadi gizi membatasi dalam makanan. Memadai garam harus disediakan untuk ternak untuk memastikan bahwa mereka memenuhi kebutuhan mereka untuk natrium (Kerley, 2000).
Pada umumnya, makanan kasar hijauan mengandung Natrium yang rendah, maka pemberian garam dapur untuk sapi potong muda sekitar 10 kg / 100 kg berat tubuh / hari dan sapi potong dewasa 7,5 gram untuk membantu peningkatan kualitas makanan. Kekurangan natrium pada sapi dapat menyebabkan (Kerley, 2000) :
a.    Sapi kurus, lemah, lesu, nafsu makan berkurang dan pertumbuhan terhambat.
b.    Berat badan merosot dan pertambahan berat tidak ada.
c.    Sapi tampak kaku, menggigil dan kehilangan keseimbangan.
d.   Denyut jantung tidak teratur dan bisa menyebabkan kematian.
7.    Klorida (Cl)
Kekurangan Klorida (Cl) pada sapi menyebabkan  (Sudarmo, 2008) :
a.    Rambut kusam, jalannya kaku, menjilat – jilat tanah.
b.    Nafsu makan berkurang, lesu, kondisi lemah, menggigil, kehilangan keseimbangan, denyut jantung tidak teratur, dan bisa menyebabkan kematian.
c.    Gangguan fungsi otot dan saraf, dan kematian mendadak.
Keseimbangan asam-basa dan Pemeliharaan konsentrasi garam, Alkalosis (bikarbonat yang berlebihan dalam darah), terbelakang dalam kasus-kasus ekstrim pertumbuhan.
































BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa mineral  merupakan suatu komponen penyusun tubuh ternak ruminansia, 4-5% berat badan ternak ruminansia terdiri atas mineral, sekitar 50% mineral tubuh ruminansia terdiri atas kalsium, 25% fosfor dan 25% lainnya terdiri atas mineral lain. Mineral makro meliputi Ca, P, Mg, Na, K, S dan Cl. Mineral yang dibutuhkan pada ternak ruminansia berbeda – beda.
B.   Saran
Diharapkan kepada peternak untuk memperhatikan penyusunan ransum pada ternak ruminansia, agar kebutuhan mineral makro dan kebutuhan lainnya terpenuhi.








DAFTAR PUSTAKA
Agus Murtidjo, Bambang. 2007. Beternak Sapi Potong. Kanisius. Yogyakarta

Arora, S. P. 1995. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. UGM. Press.  Yogyakarta. 

Kerley, M.S., 2000. Feeding For Enhancing  Rumen Function. Departement of Animal Sciences, University of Missouri – Columbia, USA. Diakses pada tanggal 21 Mei 2013. 

Kuchel, Philip dan Gregory B. Ralston. 2006. Biokimia. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Poedjiadi, A. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Sudarmo, S dkk. 2008. Beternak Ruminansia. Penebar Swaday Jakarta.

Suryahadi, dkk. 1997. Manajemen Pakan Sapi Perah. IPB. Bogor. 

Sutama, B. 2009. Panduan Lengkap Kambing & Domba. Penebarar Swadaya. Jakarta, 

Tillman, Allen D, dkk. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. UGM Press. Yogyakarta







Lampiran Diskusi
Moderator : Azmi Mangalisu (I111 11 053)
Pemateri : Syahriana Sabil (I111 11 273)
Notulis : Nur Amalia (I111 11 271)

1.    Penanya : Muh. Faisal Saade (I111 11 313)
Bagaimana cara memperoleh mineral makro secara alami?
Penjawab :
Adriawan Zainuddin ( I111 11 011) dan Erwin Eko Wartoyo (I111 11 277)
Dapat digunakan feed mineral atau ,mineral tambahan yang dikelola sendiri dari bahan – bahan yang ada di sekitar. Misalnya dapat digunakan bahan herbal seperti jahe, garam, kunyit yang kemudian dibuat jamu sehinggga dapat dicampur pada air minum ternak ruminansia. Maka dari itu, kebutuhan mineral makro dapat diperoleh dari bahan-bahan herbal tersebut.

2.    Penanya : Rachmat Budianto (I111 11 291)
Apa pengaruh mineral makro terhadap mikroba rumen?
Penjawab : Nevyani Asikin (I111 11 049)
Apabila terjadi defisiensi salah satu mineral maka aktifitas fermentasi mikroba tidak berlangsung optimum sehingga akan berdampak pada menurunnya produktivitas ternak.


3.    Penanya : Aprisal Nur (I111 11 369)
Mengapa Fosfor lebih banyak dibperlukan pada ternak dibandingkan mineral lainnya?
Penjawab :
Nur Amalia (I111 11 271) dan Muh. Qurnaldi Hakim (I111 11 001)
Yang paling banyak dibutuhkan oleh ternak ruminansia adalah Kalsium (Ca) lalu Posfor (P) yang urutan kedua paling dibutuhkan. Kalsium (Ca) dibutuhkan dalam ransum ruminansia sebanyak 90% sedangakan Posfor (P) dibutuhkan 70%

4.    Penanya : Muh.  Nurchaidir SR. (I111 11 303)
Apabila kekurangan mineral makro secara anatomi berpengaruh ke sistem apa?
Penjawab : Ayu Prasetya TW. (I11 11 101)
Apabila kekurangan mineral makro pada ransum ternak ruminansia dapat mempengaruhi proses metabolisme tubuh ternak sehingga menghambat pertumbuhan dan perkembangan tulang dan gigi, dapat menurunkan produktivitas ternak dan bahkan dapat menyebabkan kematian pada ternak rumianansia.






5.    Penanya : Imanuel Isar (I111 11 335)
Sebutkan satu contoh proses kenapa mineral makro banyak dibutuhkan?
Penjawab :
Azmi mangalisu (I111 11 053) dan Nur Amalia (I111 11 271)
Contoh proses bahwa mineral makro banyak dibutuhkan untuk ternak ruminansia adalah pada masa pertumbuhan tulang dan gigi ternak. Kalsium (Ca) dan Posfor (P) sangat dibutuhkan karena apabila kekurangan mineral makro tersebut akan mengakibatkan kelumpuhan pada ternak yang lama – kelamaan dapat menyebabkan kematian ternak.

6.    Penanya : Handayani ( I111 11 347)
Apa yang menyebabkan bila terjadi kekurangan natrium pada ternak sapi?
Penjawab : Syahriana Sabil (I111 11 273)
Kekurangan natrium pada sapi dapat menyebabkan :
a.       Sapi kurus, lemah, lesu, nafsu makan berkurang dan pertumbuhan terhambat.
b.      Berat badan merosot dan pertambahan berat tidak ada.
c.       Sapi tampak kaku, menggigil dan kehilangan keseimbangan.
d.      Denyut jantung tidak teratur dan bisa menyebabkan kematian.





7.    Penanya : Ruslan (I111 11 903)
Apa aspek – aspek yang melatarbelakangi mengapa mineral makro dibutuhkan dalam ruminansia?
Penjawab : A. Faisal (I111 11 269) dan Syahriana Sabil (I111 11 273)
Aspek – aspek yang melatarbelakangi dibutuhkannya mineral makro pada ransum ruminansia karena dalam proses pertumbuhan  dan perkembangan ternak ruminansia ada zat nutrisi mineral yang dibutuhkan dan apabila tidak terpenuhi dapat mengakibatkan terhambatnya proses metabolisme tubuh ternak  sehingga terjadi defisiensi  dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar