Kamis, 02 Januari 2014

lama pencahayaan pada ayam broiler



BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
Ada berbagai pola yang dapat dilakukan dalam pemberian cahaya tambahan pada ayam periode produksi. Jika pola pemberian cahaya ini tidak dilakukan dengan benar, maka justru akan merugikan peternak. Oleh karena itu, sebelum peternak melakukan pengaturan pencahayaan dengan berbagai modifikasi, peternak harus mengetahui fungsi cahaya tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan pengaturan berbagai modifikasi yang disesuaikan dengan lingkungan dan kondisi ayam.
Salah satu sumber bahan protein yang bermutu tinggi bagi rakyat Indonesia, mudah diperoleh dan terjangkau oleh kemampuan pendapatannya ialah telur dan dagingnya. Dalam rangka usaha menambah penyediaan protein hewani inilah pemerintan menganjurkan untuk meningkatkan lagi perkembangan peternakan ayam ras (unggul), seperti penyediaan bibit unggul, obat-obatan, melaksanakan pameran atau kontes ternak unggas secara nasional dan sebagainya.
Ternak akan selalu beradaptasi dengan lingkungan tempat hidupnya. Adaptasi lingkungan ini tergantung pada ciri fungsional, struktural atau behavioral yang mendukung daya tahan hidup ternak maupun proses reproduksinya pada suatu lingkungan. 
Ada berbagai pola yang dapat dilakukan dalam pemberian cahaya tambahan pada ayam periode produksi. Jika pola pemberian cahaya ini tidak dilakukan dengan benar, maka justru akan merugikan peternak. Oleh karena itu, sebelum peternak melakukan pengaturan pencahayaan dengan berbagai modifikasi, peternak harus mengetahui fungsi cahaya tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan pengaturan berbagai modifikasi yang disesuaikan dengan lingkungan dan kondisi ayam.



B.  Rumusan Masalah
Masalah yang ditemukan dalam makalah ini adalah bagaimana perbandingan antara pemberian cahaya terus – menerus dengan pemberian cahaya secara putus – putus pada ayam broiler?

C.  Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui perbandingan antara pemberian cahaya terus – menerus dengan pemberian cahaya secara putus – putus pada ayam broiler?
























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA



A.  Tinjauan Umum Ayam Broiler
Ayam diklasifikasikan ke dalam kingdom Animalia, phylum Chordata, class  Aves, ordo Galliformes, family Phasianidae, genus Galllus, species Gallus gallus,  dan subspecies Gallus gallus domesticus. Strain ayam broiler berasal dari  persilangan antara White Plymouth Rock dan White Cornish. Gordon dan Charles   (2002) dalam Andisuro (2011) menyebutkan bahwa ayam pedaging (broiler) adalah strain ayam hibrida  modern yang berjenis kelamin jantan dan betina yang dikembangbiakkan oleh  perusahaan pembibitan khusus. Ayam broiler memiliki tingkat produktivitas tinggi dengan konversi pakan  rendah, masa pemeliharaan relatif singkat, dan pada umur 5-6 minggu sudah bisa  dipanen (Suyoto, 1984; Saragih, 2000; Prihatman, 2002) dalam Andisuro (2011), daging berserat lunak dan  kandungan protein tinggi (Hardjosworo, 2000) dalam Andisuro (2011). Istilah broiler atau ayam pedaging berasal dari kata kerja “to broil” (sate) yang sering disinonimkan dengan makna  bahasa Inggris Amerika yaitu “to grill” (memanggang).  
Kartasudjana dan Suprijatna (2006) dalam Andisuro (2011) menyatakan bahwa performa ayam  broiler dipengaruhi faktor pemeliharaan. Suhu lingkungan kandang yang nyaman  (optimum) dapat meningkatkan performa ayam broiler. Ayam broiler dapat  berproduksi secara optimum tanpa harus mengalami cekaman panas ataupun cold  shock. Penggunaan warna lampu yang baik dalam pemeliharaan ayam broiler dapat  meningkatkan performa ayam broiler. Warna lampu yang baik dapat menghindarkan ayam broiler dari kebutaan dan mengurangi agresivitas sehinggga bobot akhir dapat  maksimum. Kartasudjana dan Suprijatna (2006) dalam Andisuro (2011) menambahkan bahwa kualitas DOC yang dipelihara harus yang terbaik, karena performa yang kurang baik bukan saja dipengaruhi oleh faktor pemeliharaan tetapi juga oleh kualitas DOC pada saat diterima.
Temperatur dan kelembaban relatif merupakan faktor penting bagi   kelangsungan hidup ternak. Ayam sebagai hewan homeotermis, dapat mengatur suhu tubuhnya relatif konstan, sekalipun temperatur lingkungan berubah-ubah. Kondisi suhu lingkungan yang optimal bagi ayam berkisar 15 - 26 0C (Perry, 2004) dalam Andisuro (2011). Tingginya kelembaban relatif akan menghambat penguapan panas melalui panting. Ayam tidak dapat menoleransi suhu lingkungan tinggi. Kejadian ini sering terjadi pada cuaca panas yang disertai mendung sehingga meningkatkan kelembaban relatif pada udara (Ilyas, 2004) dalam Andisuro (2011). Menurut Cahyono (2004) dalam Andisuro (2011), kandang hendaknya dibangun sesuai dengan kebutuhan dan sesuai bagi kehidupan ayam yang akan dipelihara agar ayam dapat hidup nyaman, tenang, dan terpelihara kesehatannya sehingga produktivitas ayam dalam menghasilkan daging dapat ditingkatkan (Andisuro, 2011).
Mulyono (2001) dalam Andisuro (2011) menyatakan bahwa syarat-syarat kandang yang baik, yaitu kandang harus cukup mendapat sinar matahari, kandang harus cukup udara segar, posisi kandang terletak pada tanah yang sedikit lebih tinggi dan dilengkapi saluran drainase yang baik, kandang tidak terletak pada lokasi tanah yang sibuk dan gaduh mengingat ayam mudah stres serta ukuran dan luas kandang disesuaikan dengan jumlah dan umur ayam. Kepadatan kandang yang melebihi batasnya akan berpengaruh negatif terhadap performa unggas, namun biasanya peternak mengabaikan hal ini untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari adanya penghematan areal kandang.
Kenyamanan ternak dalam kandang, salah satunya dipengaruhi oleh keseimbangan antara jumlah ternak dan luas kandang. Luasan kandang mempengaruhi tingkat aktivitas ternak (French, 1981) dalam Andisuro (2011). Kandang berfungsi untuk (a) perlindungan dari cuaca buruk; (b) tempat untuk tidur dan beristirahat; (c) perlindungan dari hewan-hewan pemangsa; (d)  perlindungan dari pencurian; (e) mencegah hilangnya ternak karena berkeliaran; (f) mempermudah pemeliharaan; (g) mempermudah seleksi; (h) mempermudah panen; (i) membantu pertumbuhan dan perkembangan (Cahyono, 2004) dalam Andisuro (2011). Kandang terbuka untuk pemeliharaan ayam broiler banyak digunakan oleh  peternak dalam skala kecil (peternak rakyat). Alasan peternak rakyat menggunakan kandang terbuka adalah karena biaya yang dikeluarkan untuk membangun satu unit kandang terbuka cukup ekonomis. Penggunaan kandang terbuka dalam pemeliharaan ayam broiler memiliki keuntungan lain yaitu cukup mendapat sinar matahari yang baik untuk pertumbuhan ayam broiler dan mengurangi (Andisuro, 2011).
Andisuro (2011) menyatakan bahwa pemeliharaan dengan kandang terbuka juga memiliki kelemahan, diantaranya adalah suhu lingkungan yang fluktuatif tidak dapat dikontrol, sehingga peternak harus dapat menyiasati apabila suhu terlalu dingin ataupun terlalu panas untuk ayam broiler. Kandang tertutup (closed house) digunakan oleh peternak-peternak besar atau industri. Penggunaan kandang tertutup dalam pemeliharaan ayam broiler memungkinkan peternak untuk mengatur suhu dalam kandang yang baik untuk pertumbuhan ayam broiler. Kandang tertutup biasanya menggunakan alat pengatur suhu dan sistem peralatan yang lebih canggih (otomatis).

B.  Faktor Pencahayaan Pada Pemeliharaan Ayam Broiler
Ayam merupakan hewan homeotermi dan memiliki kemampuan homeostasis untuk mempertahankan suhu tubuh tetap stabil walaupun suhu lingkungan berubahubah. Suhu tubuh ayam pedaging berada pada kisaran sempit yang digambarkan oleh batasan rendah atau tinggi ritme circadian di dalam tubuh. Batasan ritme circadian berkisar pada 40,5 ºC (rendah) dan 41,5 ºC (tinggi). Jahja (2000) dalam Andisuro (2011). menyatakan bahwa mekanisme homeostasis berjalan efisien dan normal pada kisaran wilayah suhu netral (thermoneutral zone atau comfort zone). Apabila suhu tubuh ayam broiler lebih rendah daripada suhu lingkungan, maka nutrient yang ada di dalam tubuh sebagian besar digunakan oleh ayam broiler untuk memproduksi panas tubuh (Bruzual et al., 2000) dalam Andisuro (2011).  
Cahaya (Light) mengandung energi proton yang dapat diubah menjadi ransangan biologis yang diperlakukan untuk berbagai proses fisiologis tubuh.Pada unggas, respon terhadap cahaya tidak terlalu melibatkan respon cahaya yang terdapat pada mata.Dapat dibuktikan bahwa reseptor cahaya yang terdapat pada hipotalamus lebih banyak digunakan untuk mengubah energi foton menjadi implus syaraf, yang kemudian diteruskan oleh sistem endokrin untuk berbagai keperluan seperti reproduksi perilaku dan karakteristik sekunder kelamin. Untuk dapat berproduksi dengan baik, ayam petelur memerlukan ransangan cahaya yang cukup lama dan intensitas. Pada daerah temperate diperlukan ransangan cahaya selama 14-16 jam/hari ( Sahari Banong, 2012).
Suhu nyaman untuk mencapai pertumbuhan optimum ayam pedaging  berkisar antara 18-22 ºC dan antara 21-29 ºC (Charles, 2002) dalam Andisuro (2011). Untuk ayam broiler umur 3-6 minggu, lingkungan yang panas adalah salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap penyebab stres pada ayam broiler. Stres panas pada ayam broiler dihasilkan oleh adanya interaksi antara suhu udara, kelembaban, sirkulasi panas serta kecepatan udara, dimana suhu lingkungan menjadi faktor yang utama (European Comission, 2000) dalam Andisuro (2011).
Suhu tubuh ayam akan meningkat 1-2 ºC pada lingkungan panas hingga  tubuh ayam dapat kembali beradaptasi (Oleyumi dan Robert, 1980) dalam Andisuro (2011). Peningkatan  suhu kandang dapat juga disebabkan oleh kepadatan yang tinggi (Jahja, 2000) dalam Andisuro (2011) dan laju kecepatan pertumbuhan (Bonnet et al. 1997) dalam Andisuro (2011). Ayam broiler mengalami seleksi intensif untuk pertumbuhan cepat dengan tingkat konsumsi pakan tinggi yang berimplikasi kepada peningkatan produksi panas tubuh dan peningkatan suhu tubuh Cahaya secara fisik merupakan energi berbentuk gelombang yang bergerak  lurus ke semua arah, tidak dapat membelok, dan dapat dipantulkan. Cahaya yang paling banyak digunakan dalam kandang tertutup untuk produksi ayam broiler bersumber dari lampu pijar (Andisuro, 2011).
Cahaya berfungsi dalam proses penglihatan. Cahaya merangsang pola sekresi beberapa hormon yang mengontrol pertumbuhan, pendewasaan, reproduksi, dan  tingkah laku. Cahaya mengatur ritme harian dan beberapa fungsi penting di dalam tubuh seperti suhu tubuh dan beragam tahapan metabolisme yang terkait dengan pemberian pakan dan pencernaan (Olanrewaju et al., 2006) dalam Nasty (2010).
Andisuro (2011) menyatakan bahwa mekanisme proses fisiologis rangsangan cahaya diawali dengan rangsangan mekanis pada syaraf penglihatan dan selanjutnya secara kimiawi melalui rangsangan hormonal dan mempengaruhi organ-organ tubuh. Cahaya yang mengenai mata ayam akan diterima oleh reseptor pada mata ayam, merangsang syaraf mata dan kemudian rangsangan ini diteruskan ke hiphofisa. Hasil kerja selanjutnya menyebabkan pengeluaran hormon pengendali dari hiphofisa anterior yang berfungsi mengatur pengeluaran kelenjar endokrin. Hormon pengendali tersebut terdiri atas hormon stimulasi tiroid yang meningkatkan stimulasi tiroid dan hormon somatotropik yang berfungsi mengatur pertumbuhan dengan mengendalikan metabolisme asam amino dalam pembentukan protein. Hormon pertumbuhan penting dalam pengendalian pertumbuhan dan aspek lainnya dari metabolisme lemak, karbohidrat dan protein dalam tubuh unggas (Card dan Nesheim, 1972) dalam Andisuro (2011).
Intensitas cahaya dapat dinyatakan dalam satuan lux (lx) atau lumen/m2 ,footcandle (fc), lumen (lm), dan W/m2. Lampu pijar dengan daya 1 Watt menghasilkan intensitas cahaya sebesar 12,56 lm. Intensitas cahaya yang diberikan pada ayam broiler menurut rekomendasi Renden et al. (1996) adalah 20 lux hingga ayam broiler berumur tujuh hari dan berikutnya adalah 5,0 lux hingga berumur 49 hari. Intensitas cahaya dipengaruhi oleh luas dan kepadatan kandang (Saputro, 2007) dalam Andisuro (2011).
Program pencahayaan pada tahap pertumbuhan awal anak ayam berumur
antara satu sampai tujuh hari menggunakan intensitas cahaya minimum 20 lux yang  diberikan secara terus menerus. Pemberian cahaya seperti ini bertujuan untuk  memastikan anak ayam dapat beadaptasi dengan baik terhadap lingkungannya serta meningkatkan aktivitas sehingga mengurangi kelainan pada cacat kaki. Intensitas cahaya dapat mempengaruhi tingkah laku ayam broiler. Intensitas cahaya yang lebih rendah dapat menurunkan aktivitas ayam untuk berjalan dan berdiri, mengurangi tingkah laku berkelahi antar sesama ayam, serta menurunkan aktivitas mengepakkan sayap dan kanibalisme. Intensitas cahaya yang sangat rendah (< 5 lux) akan menyebabkan kebutaan pada ayam (Olanrewaju et al., 2006) dalam Andisuro (2011).



C.  Pengaruh Lama Pencahayaan Terhadap Pertumbuhan Ayam Broiler
Cahaya sangat diperlukan oleh ayam broiler terutama pada umur tujuh hari pertama. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa jumlah total lama pencahayaan bukan merupakan aspek yang penting dalam pengaturan cahaya bagi ayam broiler. Ayam broiler tidak melakukan aktivitas pada Periode gelap (tanpa cahaya) dan memberi kesempatan kepada ayam broiler untuk mencerna makanan secara sempurna (Classen, 1989) dalam Rustam (2012).
Pemberian cahaya pada ayam broiler yang umum dilakukan peternak adalah secara terus-menerus (continous lighting) selama 24 jam dengan intensitas yang semakin menurun pada fase akhir (Classen, 1989). Pencahayaan terus-menerus akan meningkatkan waktu untuk makan, meningkatkan pertambahan bobot badan, dan meningkatkan pembentukan bulu, tetapi menyebabkan terjadinya gangguan ritme harian (diurnal), kelainan kaki dan tulang (Sanotra et al., 2002) dalam (Andisuro, 2011) yang mengakibatkan kesulitan pergerakan ayam broiler untuk mendapatkan pakan dan air minum (Wong-Valle et al., 1993) dalam Andisuro (2011).
Ayam broiler yang tetap berada pada posisi ritme harian, mampu mengatur pola tingkah laku seperti makan, tidur, bergerak dan istirahat secara normal (Olanrewaju et al., 2006) dalam Andisuro (2011). Pencahayaan secara bergantian (intermitten lighting) akan mengurangi stres pada ayam broiler dibandingkan dengan ayam broiler yang diberikan cahaya secara terus-menerus yang diukur berdasarkan konsentrasi plasma kortikosteron. Plasma kortikosteron akan meningkat pada ayam broiler yang mengalami stres (Puvadolpirod dan Thaxton, 2000) dalam Andisuro (2011).
Pemberian lama pencahayaan selama 16 jam dapat menurunkan stres fisiologis, peningkatan respon kekebalan, peningkatan metabolisme tulang, peningkatan aktivitas total, dan peningkatan kesehatan kaki (Classen et al., 2004) dalam Andisuro (2011). Pemberian cahaya yang terus menerus selama 24 jam akan meningkatkan tingkah laku makan dan minum serta aktivitas lainnya. Ayam broiler adalah makhluk diurnal yang apabila menerima rangsangan cahaya pada malam hari akan memberikan kesempatan ayam broiler untuk makan dan minum Andisuro (2011).
BAB III
PEMBAHASAN


A.  Pemberian  Cahaya Secara Terus – Menerus Pada Ayam Broiler
Pencahayaan merupakan teknik manajemen yang penting dalam pemeliharaan ayam broiler untuk meningkatkan pertumbuhan dan menekan kematian. Program pencahaayaan yang dimakssud terdiri dari tiga aspek yaitu gelombang cahaya, intensitas cahaya, durasi dan penyebaran cahaya. Pencahayaan secara tradisional hanya ada satu sistem, yaitu pencahayaan secara terus menerus yang telah diterapkan oleh para petrnak broiler. Hal ini dilaksanakan untuk memaksimalkan pertumbuhan berat badan harian (Sulistiyo, 2011).
Pencahayaan terus-menerus akan meningkatkan waktu untuk makan, meningkatkan pertambahan bobot badan, dan meningkatkan pembentukan bulu. Pemberian cahaya yang terus menerus selama 24 jam akan meningkatkan tingkah laku makan dan minum serta aktivitas lainnya. Ayam broiler adalah makhluk diurnal yang apabila menerima rangsangan cahaya pada malam hari akan memberikan kesempatan ayam broiler untuk makan dan minum (Andisuro (2011).

B.  Pemberian Cahaya Secara Putus – Putus Pada Ayam Broiler
pencahayaan secara terus menerus yang telah diterapkan oleh para petrnak broiler dilaksanakan untuk memaksimalkan pertumbuhan berat badan harian, namun penelitian menunjukkan durasi dan intensitas pencahayaan yang lebih pendek justru sangat berpengaruh positif terhadap performance broiler. Hal ini erat hubungannya dengan imunitas ayam, karena pada fase gelap hormon melatonin baru disekresikan. Hormon melatonin berfungsi untuk meningkatkan imunitas.  Ayam yang mendapat cahaya 17 sampai 20 jam sehari semalam dengan intensitas sekitar 5 - 10 lux akan memberikan efek performance yang lebih baik dibandingkan dengan 24 jam full mendapat cahaya. Dengan catatan selama 7 hari pertama ayam tetap mendapat cahaya selama 23 jam pada intensitas minimal 20 lux (Sulistiyo, 2011).
Sulistiyo (2011) menyatakan bahwa teknis praktis program pencahayaan dapat dilakukan dengan kondisi dan ketersediaan peralatan di kandang. namun demikian program pencahayaan ini harus konsisten dilakukan sejak awal masa pemeliharaan. Hal yang lebih penting lainnya adalah peternak harus menyediakan timer otomatis yang disetting sedemikian rupa untuk memudahkan saat menghidupkan dan mematikan lampu. Contoh program pencahayaan untuk ayam broiler yang telah dimodifikasi terdiri dari 2 tipe yaitu:
a.       Program Lama Penyinaran sesuai dengan umur sampai bobot panen diatas 2 kg.
 Umur
 Terang (jam)
 Gelap (jam)
 0
 24
 0
 1 – 4
 23
 1
 5 – 7
 15
 9
 8 – 22
 16
 8
 23 – 28
 18
 6
 29 - panen
 23
 1

b.      Program Lama Penyinaran sesuai dengan umur dengan bobot panen 1 kg sampai 2 kg
 Umur
 Terang (jam)
 Gelap (jam)
 0
 24
 0
 1 – 4
 23
 1
 5 – 7
 18
 6
 8 – 22
 19
5
 23 - Panen
 23
 1

Pemberian cahaya terus menerus dapat menyebabkan terjadinya gangguan ritme harian (diurnal), kelainan kaki dan tulang (Sanotra et al., 2002) dalam (Andisuro, 2011) yang mengakibatkan kesulitan pergerakan ayam broiler untuk mendapatkan pakan dan air minum (Wong-Valle et al., 1993) dalam Andisuro (2011). Pencahayaan secara bergantian (intermitten lighting) akan mengurangi stres pada ayam broiler dibandingkan dengan ayam broiler yang diberikan cahaya secara terus-menerus (Puvadolpirod dan Thaxton, 2000) dalam Andisuro (2011).
Pemberian lama pencahayaan selama 16 jam dapat menurunkan stres fisiologis, peningkatan respon kekebalan, peningkatan metabolisme tulang, peningkatan aktivitas total, peningkatan bobot badan dan peningkatan kesehatan kaki (Classen et al., 2004) dalam Andisuro (2011).

C.  Perbandingan Pemberian Cahaya Secara Terus – Menerus dengan Pemberian Cahaya Secara Putus – Putus Pada Ayam Broiler
Adapun perbandingan pemberian cahaya secara terus – menerus dengan pemberian cahaya secara putus – putus adalah sebagai berikut Andisuro (2011):
1.      Pemberian cahaya secara terus-menerus akan meningkatkan pertambahan bobot badan ayam broiler tetapi mengganggu imunitas ayam sehingga kekebalan tubuh ayam akan menurun karena hormon melatonin tidak sekresikan.
2.      Pemberian cahaya secara terus-menerus akan meningkatkan pembentukan bulu pada ayam broiler dengan cepat tetapi dapat mengakibatkan penurunan kesehatan pada tulang dan kaki ayam sehingga susah untuk beraktivitas.
3.      Pemberian cahaya secara terus-menerus akan meningkatkan tingkah laku ayam broiler tetapi secara fisiologis dapat mengakibatkan strees pada ayam.







BAB IV
PENUTUP


A.  Kesimpulan
Berdasarkan tinjauan pustaka dan pembahasan dari makalah ini maka dapat disimpulkan bahwa pemberian cahaya secara putus – putus lebih baik dari pada pemberian cahaya secara terus menerus terhadap produktivitas ayam broiler karena dapat menurunkan stres fisiologis, peningkatan respon kekebalan, peningkatan metabolisme tulang, peningkatan aktivitas total, peningkatan bobot badan dan peningkatan kesehatan kaki.

B.  Saran
Adapun saran penulis adalah sebaiknya pembaca menyampaikan kepada peternak ayam broiler agar memberikan sistem pencahayaan secara putus – putus dalam tata laksana pemeliharaannya sehingga produktivitas ayam dapat meningkat.














DAFTAR PUSTAKA


Andisuro, R. 2011. Ayam Broiler. Institut Pertanian Bogor (IPB). Bogor.

Nasty, F. 2010. Hubungan Cahaya Terhadap Produktivitas Ternak. http://fauzynasty.blogspot.com/2010/10/hubungan-cahaya-terhadap-produktifitas.html. Diakses pada tanggal 16 Maret 2013.

Rustam, A.  2012. Pengaruh Cahaya Dalam Pemeliharaan Ayam Broiler. http://catatanpeternak.blogspot.com/2012/10/makalah-pengaruh-cahaya-terhadap.html. Diakses pada tanggal 16 Maret 2013

Sahari Banong. 2012. Manajemen Industri Ayam Ras Petelur. Masagena Press. Makassar.

Sulistiyo. 2011. Tata Laksana Pemeliharaan Peternakan Ayam Broiler. http://broilerku.blogspot.com/2011_10_01_archive.html. Diakses pada tanggal 16 Maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar