Kamis, 02 Januari 2014

kebutuhan nutrisi ternak untuk hidup pokok dan produksi



KEBUTUHAN NUTRISI
UNTUK HIDUP POKOK DAN PRODUKSI

Kebutuhan ternak akan zat makanan terdiri dari kebutuhan hidup pokok dan kebutuhan untuk produksi. Kebutuhan hidup pokok pengertiannya sederhana yaitu untuk mempertahankan hidup. Ternak yang memperoleh makanan hanya sekedar cukup untuk memenuhi hidup pokok, bobot badan ternak tersebut tidak akan naik dan turun. Tetapi jika ternak tersebut memperoleh lebih dari kebutuhan hidup pokoknya maka sebagian dari kelebihan makanan itu akan dapat dirubah menjadi bentuk produksi misalnya air susu, pertumbuhan dan reproduksi ini disebut kebutuhan produksi.
Telah dijelaskan bahwa energi yang digunakan untuk aktivitas hidup pokok diubah dalam bentuk panas dan dikeluarkan tubuh juga dalam bentuk panas. Jumlah panas yang meningkat diakibatkan oleh aktivitas hidup pokok tersebut dinamakan dengan istilah metabolisme basal hewan. Pengukuran ini langsung diperkirakan dari jumlah NE yang harus didapat oleh ternak untuk memenuhi kebutuhan hidup pokoknya.
Pengukuran konsumsi pakan pada ternak biasanya berdasarkan bahan kering. Konsumsi bahan kering pada ternak dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu faktor pakan yang meliputi palatabilitas dan daya cerna, faktor ternak yang meliputi bangsa, jenis kelamin, umur dan kondisi kesehatan. Konsumsi bahan kering memegang peranan penting karena dalam bahan kering tersebut ternak memperoleh energi, protein, vitamin dan mineral.
Konsumsi bahan kering merupakan pembatas untuk dapat tidaknya dipenuhi kebutuhan ternak akan zat-zat pakan yang diperlukan untuk hidup pokok, pertumbuhan dan produksi. Kebutuhan bahan kering untuk domba adalah berkisar antara 2-4 % dari bobot badan per hari. Konsumsi bahan kering menentukan tinggi rendahnya konsumsi bahan organik dan bahan anorganik. Bahan organik terdiri dari karbohidrat, lemak, protein dan vitamin.
Ternak membutuhkan energi untuk mempertahankan hidupnya dan berproduksi secara normal. Energi didapatkan dari hasil metabolisme zat-zat makanan dalam tubuh ternak itu sendiri. Energi sangat penting untuk hidup pokok, produksi dan reproduksi. Kekurangan energi akan menghambat pertumbuhan pada hewan muda dan kehilangan bobot badan pada hewan dewasa. Bila energi pakan tidak memenuhi kebutuhan, maka kebutuhan tersebut akan dipenuhi dengan membongkar timbunan lemak tubuh. Jika timbunan lemak tubuh sudah habis maka kebutuhan energi tersebut dipenuhi dengan membongkar protein tubuh.
Kebutuhan energi dapat dinyatakan dalam “Metabolism Energy” (ME), “Digestible Energy” (DE), “Gross Energy” (GE) dan “Total Digestible Nutrient” (TDN). TDN merupakan satuan energi yang berdasarkan seluruh nutrisi  pakan yang tercerna, sehingga nilai TDN hampir sama dengan energi dapat dicerna (DE). Perbedaannya terletak pada cara pengukurannya, dimana nilai DE bahan pakan ditetapkan dengan jalan membakar sampel bahan pakan dan juga feses dalam bom kalorimeter. Kelemahan penggunaan TDN sebagai satuan energi adalah tidak menghitung hilangnya zat-zat nutrisi yang dibakar saat metabolisme dan energi panas yang timbul saat mengkonsumsi pakan.
Hewan yang diberi pakan bebas nitrogen,  kenyataannya tetap terlihat adanya kehilangan nitrogen yang keluar bersama feses dan urin yang berasal dari degradasi dinding usus, enzim dan mikroba yang mati.  Eksresi nitrogen diurin dapat berasal dari perubahan kreatin menjadi kreatinin  dan juga urea yang merupakan hasil katabolisme asam amino.  Protein tubuh pada dasarnya selalu harus diganti dengan protein yang baru. Pergantian protein di usus dan hati ini memakan waktu dalam unit jam atau hari, sedangkan pergantian di tulang dan syaraf memakan waktu dalam unit bulan bahkan tahunan. Jumlah kebutuhan nitrogen untuk hidup pokok akan seimbang bila besar konsumsi N dapat diimbangi dengan besarnya jumlah N-metabolik di feses dan N-endogenous di urin. Cara pengukurannya yaitu dengan menentukan nitrogen yang hilang/keluar dari hewan yang diberi pakan bebas nitrogen.
Kebutuhan energi untuk pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh bobot badan dan juga jenis kelamin serta bangsa hewan. Jantan biasanya mempunyai kecepatan pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan  betina, oleh karena itu kebutuhan energi untuk jantan lebih banyak daripada untuk  betina. Jenis bangsa hewan tipe besar akan membutuhkan energi lebih banyak dibandingkan dengan bangsa hewan yang kecil. Penentuan energi untuk standar biasanya didasari oleh suatu model factorial.  
Sedangkan kebutuhan protein untuk tumbuh dapat dihitung seperti: Seekor anak domba tumbuh dengan pertambahan bobot badan 0,2 kg/h dan kehilangan protein endogenous sebanyak 21 g/h, kandungan protein tubuh 170 g/kg. Maka kebutuhan protein untuk hewan tersebut Kebutuhan Protein = 21 + (0,2 x 170) =55 g.  Jika nilai BV nya 0,80 dan kecernaan proteinnya 0,85 maka protein yang dibutuhkan adalah = 55/(0,80 x 0,85) = 81 g.


DAFTAR PUSTAKA
Prayatno, E. 2012. Macam- Macam Pakan Ternak Ruminasia. http://duniailmupeternakan.blogspot.com/2012/02/macam-macam-pakan-ternak-ruminansia.html. Diakses pada tanggal 18 Desember 2012.


Tillman, Allen D.dkk.1982. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University  Press. Yogyakarta.


Tim Dosen. 2010. Kebutuhan Pakan Ternak. staff.unud.ac.id/~sampurna/wp.../11/kebutuhan-pakan-ternak.doc. Diakses pada tanggal 18 Desember 2012.

Yuri. 2012. Daya Suka Pada Ternak Ruminansia. http://yurichocoru.wordpress.com/2012/09/07/laporan-daya-suka-pada-ternak-ruminansia/. Diakses pada tanggal 18 Desember 2012.



KEBUTUHAN NUTRISI
UNTUK REPRODUKSI DAN LAKTASI
Kecepatan reproduksi adalah petunjuk yang baik untuk berhasilnya program produksi ternak. Pada saat tertentu alat-alat reproduksi ternak mencapai tingkat perkembangan dan berfungsi pada umur tertentu dari spesies dan bangsa. Bila alat reproduksi mulai berfungsi, maka saat pubertas ternak telah dicapai. Reproduksi adalah sejumlah rangkaian proses fisiologis yang berlangsung sepanjang tahun. Pada situasi dimana kuantitas dan kualitas pakan tersedia sepanjang tahun tidak terbatas, maka masalah reproduksi jarang diketemukan. Namun demikian, pada kondisi peternakan ektensif dimana ketersedian pakan berfluktuasi sekali sepanjang musim maka reproduksi dapat menjadi masalah. Pada umumnya, nutrisi jelek yang disebabkan tidak cukup, kelebihan atau ketidakseimbangan konsumsi nutrisi dapat berpengaruh buruk terhadap berbagai tahap proses reproduksi mulai dari keterlambatan pubertas, mengurangi tingkat ovulasi dan rendahnya angka konsepsi, tingginya kehilangan embrio dan fetus, panjangnya lama anestrus paska melahirkan, kurangnya air susu, tingginya kematian perinatal dan rendahnya performans anak baru lahir. 
Pengaruh Energi Terhadap Performans Reproduksi
Respon reproduksi terhadap suplai energi menjadi tiga bagian: (1). Pengaruh jangka lama, yang berpengaruh terhadap ternak mulai dari lahir, pubertas sampai dewasa, (2). Pengaruh jangka menengah, yang berpengaruh terhadap daur reproduksi tahunan pada ternak betina dewasa, dan (3). Pengaruh jangka pendek terutama pada saat periode sebelum dan sesudah kawin.  Status gizi / nutrisi seekor ternak dari lahir sampai dewasa dapat berpengaruh terhadap total performans reproduksinya melalui pengaruhnya terhadap umur pada saat pubertas yang akan berdampak terus terhadap reproduksi pada saat dewasa. Pada sapi dan domba telah dibuktikan bahwa kekurangan nutrisi pada saat pemeliharaan dapat memperlambat waktu pubertas dan pengaruh residunya terhadap fertilitas (kemampuan untuk melahirkan) pada waktu dewasa. Pengaruh energi jangka menengah berhubungan dengan fluktuasi dalam konsumsi energi pada setiap tahap dari siklus musim kawin yang menghasilkan akumulasi atau kehilangan cadangan energi tubuh sehingga berpengaruh terhadap kondisi tubuh pada waktu kawin. Respon reproduksi terhadap suplai energi dalam jangka waktu pendek, sudah banyak dilakukan pada ternak domba, dimana pemberian pakan tambahan sebelum dan sesudah periode kawin (metode flushing) dapat meningkatkan tingkat ovulasi dan kesuburan ternak. pembatasan energi dalam ransum sapi dapat menyebabkan tidak berahi (anestrous) pada sapi-sapi betina yang siklus berahinya normal. Sapi betina menyusui yang diberi pakan dengan energi terbatas menghasilkan korpus luteum subfungsional selama siklus estrus sebelum menjadi anestrus. Pemberian ransum dengan kandungan lemak 5,2% pada sapi perah, sebelum dan sesudah melahirkan meningkatkan ukuran dan jumlah folikel pasca melahirkan, mempengaruh konsentrasi hormon steroid sebelum melahirkan dan berat lahir anak sapi.

Pengaruh Protein Terhadap Performans Reproduksi
Pada ternak ruminansia, sebagian besar kebutuhan proteinnya dapat disuplai oleh produksi protein sendiri ( 70% ) dalam arti protein diproduksi melalui protein mikroba. Namun demikian, data dari beberapa hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat kebuntingan pada sapi dewasa dan heifer dipengaruhi oleh konsumsi protein pada waktu pra - dan paska melahirkan. Data dari sapi potong sedang laktasi dan sapi dara yang menerima ransum protein rendah dengan berbagai level energi selama periode kebuntingan mempunyai tingkat kebuntingan yang lebih rendah dibanding kelompok yang mendapat ransum protein tinggi. Hal yang sama terjadi pada kelompok sapi yang sedang menyusui, tingkat kebuntingan sangat dipengaruhi oleh kecukupan protein dalam ransumnya.
Pengaruh mineral dan Vitamin terhadap Performans Reproduksi 
Kebutuhan makromineral Kalsium dan Phosfor untuk ternak ruminansia lebih ditentukan oleh perbandingan kedua mineral tersebut. Mineral lain yang berperan adalah seng ( Zn) yang terlibat dalam beberapa reaksi enzimatik berhubungan dengan metabolisme karbohidrat , sintesis protein dan metabolisme asam nukleat. Oleh karena itu zat seng sangat penting untuk sel seperti sel-sel gonad dimana pertumbuhannya aktif dan terjadi pembelahan. Konsekuensinya, fungsi reproduksi akan serius terganggu bikla kekurangan Zn, spermatogenesis dan perkembangan organ kelamin sekunder dan primer pada jantan serta semu fase proses reproduksi pada betina mulai dari estrus , kebuntingan sampai laktasi akan terganggu.
Pada ternak ruminansia umumnya mengkonsumsi vitamin A dalam bentuk tidak aktif- ß carotene atau Provitamin A- , kecuali jika diberikan suplemen biji-bijian berbasis konsentrat. Provitamin A diubah menjadi bentuk aktif vitamin A dalam usus kecil dan bersama dengan suplemen vitamin A yang telah terbentuk disimpan dalam hati, otot, telur dan susu untuk digunakan berbagai macam fungsi, termasuk yang berhubungan dengan fenomena reproduksi. Gangguan reproduksi yang dapat diamati dengan adanya kekurangan vitamin A pada ternak adalah terlambatnya pubertas, rendahnya tingkat kebuntingan, tingginya kematian embrio, tingginya kematian anak baru lahir karena lemah, kebutaan dan berkurangnya libido pada jantan.


DAFTAR PUSTAKA
Dogar, S. 2012. Fungsi Nutrisi dalam Proses Reproduksi. http://saungdombagarut.blogspot.com/2012/04/fungsi-nutrisi-dalam-proses-reproduksi.html. Diakses pada tanggal 18 Desember 2012.


Hadi, Y. 2010. Pengaruh Nutrisi Terhadap Performens. http://ternak-ruminansia.blogspot.com/2010/10/pengaruh-nutrisi-terhadap-performans.html. Diakses pada tanggal 18 Desember 2012.


Tillman, Allen D.dkk.1982. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University  Press. Yogyakarta.


Tugas Individu
Mata Kuliah : Ilmu Nutrisi Ternak Dasar
Dosen              : Prof. Dr. Ir. H. Sjamsuddin Rasjid, M.Sc.


KEBUTUHAN NUTRISI
UNTUK HIDUP POKOK, PRODUKSI,
REPRODUKSI DAN LAKTASI PADA TERNAK



OLEH:
SYAHRIANA SABIL
NIM I111 11 273
KELAS GANJIL (PAGI)

Logo UNHAS


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar