Kamis, 02 Januari 2014

evaluasi bahan pakan



BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Industri yang bergerak di bidang pakan ternak di Indonesia bervariasi, mulai dari industri besar sampai industri kecil. Industri-industri tersebut mempunyai hasil produk berupa pakan ternak dengan kualitas dan kuantitas yang berbeda. Bahan baku merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas ransum. Sifat fisik merupakan salah satu metode uji kualitas bahan baku yang sangat penting selain uji secara kimia dan biologis. Data mengenai sifat fisik beberapa bahan baku pakan masih jarang, sehingga belum ada standar mutu secara baku mengenai sifat fisik bahan baku pakan.
Penyediaan pakan ternak unggas di Indonesia saat ini masih mengalami kendala, satu diantaranya adalah masih tingginya komponen penyusun ransum berupa pakan import. Tentu saja hal ini secara langsung berimplikasi terhadap tingginya harga pakan pada tatanan konsumen. Sampai saat ini sekitar 80% dari seluruh komponen penyusun ransum unggas merupakan produk import seperti corn gluten meal (CGM), bungkil kedelai, meat bone meal (MBM) dan tepung ikan. Bungkil kedelai sampai saat ini masih merupakan komponen utama sumber protein nabati pada pakan unggas di Indonesia.
Kondisi demikian diperlukan upaya untuk mencari pakan sumber protein lain sebagai alternatif bungkil kedelai pada ransum unggas. Bahan pakan tersebut disyaratkan tersedia secara kontinyu, produksinya terkonsentrasi pada suatu tempat dan secara sosial dapat diterima oleh masyarakat. Salah satu bahan pakan tersebut adalah bungkil kelapa sawit  yang merupakan hasil samping agroindustri pengolahan sawit menjadi minyak sawit (palm kernel oil).
Ransum tersusun dari kumpulan bahan baku yang diformulasikan secara khusus sehingga memiliki kandungan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan. Kualitas ransum sangat ditentukan dari kualitas bahan baku yang digunakan. Namun saat ini kualitas bahan baku sulit dipertahankan karena iklim sudah tidak stabil lagi akibat adanya pemanasan global. Selain itu perbedaan supplier juga akan mempengaruhi keragaman kualitas bahan baku. Melihat kondisi tersebut perlu sekiranya kita melakukan suatu uji yang terdiri dari uji fisik, mikroskopik maupun kimia agar bahan baku dan ransum tetap berkualitas.
Dari pengujian bahan baku, terutama uji kimia, kita bisa mendapatkan data real kandungan nutrisi yang dapat digunakan sebagai dasar formulasi ransum. Dan pengujian ransum jadi dapat difungsikan untuk memastikan kembali ransum yang dibuat apakah sudah sama dengan formula awal. Hal ini perlu dilakukan karena terkait alur proses pembuatan ransum yang panjang terutama saat penimbangan dan pencampuran yang sangat memungkinkan terjadinya penurunan kualitas.
Terdapat perbedaan parameter yang diukur dalam pengujian kualitas fisik, kimia, biologis dan ekonomis. Namun keempatnya mempunyai hubungan yang erat. Atas dasar inilah dilakukan penyusunan makalah yang berjudul “Evaluasi Bahan Pakan Secara Fisik, Kimia, Biologis dan Ekonomis”.

Rumusan Masalah
Bagaiaman evaluasi pakan secara fisik, kimia, biologis dan ekonomis?

Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui Sistem evaluasi pakan secara fisik, kimia, biologis dan ekonomis.



BAB II
PEMBAHASAN


Evaluasi Pakan Secara Fisik
Dengan tujuan untuk menghasilkan atau membeli pakan yang superior perlu untuk diketahui apa yang merupakan kualitas pakan dan bagaimana untuk mengenali atau mereka perlu untuk menjadi familiar dengan karakteristik yang dikenali dari makanan yang menunjukan kandungan nutrisi dan kelezatan yang tinggi. Jika diragukan, observasi pada binatang yang memakan makanan ternak akan menunjukannya, bagi peternakan memilih dan mengembangkan makanan yang berkualitas tinggi. 
Pengujian bahan pakan secara fisik  merupakan analisis pakan dengan cara melihat keadaan fisiknya. Pengujian secara fisik bahan pakan dapat dilakukan baik secara langsung (makroskopis) maupun dengan alat bantu (mikroskopis). Pengujian secara fisik disamping dilakukan untuk mengenali bahan pakan secara fisik juga dapat untuk mengevaluasi bahan pakan secara kualitatitif. Sebenarnya analisis secara fisik saja tidak cukup, karena adanya variasi antara bahan sehingga diperlukan analisis lebih lanjut, seperti analisis secara kimia atau secara biologis atau kombinasinya.
Evaluasi fisik dari makanan hewan, terutama makanan ternak adalah berdasarkan pada penampilan visual dan baunya. Karakteristik dari jerami yang baik – karakteristik yang mudah diamati dari jerami yang mempunyai nilai makanan yang tinggi adalah: 
1.    Jerami yang berasal dari tanaman pada awal kematangan yang menjamin kandungan maksiumum dari protein, mineral dan vitamin dan kelezatan yang tertinggi.
2.    Jeraminya berdaun, yang memberikan kepastian kandungan yang tinggi dari protein dan nutrisi lain.
3.    Jeraminya berwarna hijau cerah, menunjukan perawatan yang baik, kaya akan karotin dan provitamin A dan kelezatan. 
4.    Jerami bebas dari material asing, seperti rumput-rumput liar, kotoran dan lainnya.
5.    Jerami bebas dari jamur dan debu.
6.    Jeraminya mempunyai batang yang bagus dan lunak – tidak mentah, tidak keras, berkayu. Hal ini benar terutama ketika membandingkan potongan pertama dengan potongan selanjutnya. Pemotongan selanjutnya cenderung kurang.
7.    Mempunyai aroma yang menyenangkan dan harum; harumnya cukup baik untuk dimakan. 
Karakteristik yang mudah diamati dari makanan ternak yang bernilai tinggi adalah: 
1.    Telah bersih, bau asam laktat yang cukup menyenangkan, jelasnya kurang kotor atau bau asam butyric dari makanan ternak yang tidak baik.
2.    Mempunyai bau yang menyenangkan – tidak pahit atau asam.
3.    Tidak berjamur, apek atau berlumpur.
Dalam Pembuatan pakan buatan pengujian secara fisik dapat dilakukan pada Kehalusan bahan baku, dapat diuji dengan jalan menggiling ulang, berdasarkan besar kecilnya ukuran butiran, kita dapat membedakannya menjadi sangat halus, agak kasar, sangat kasar dll. Kekerasan dapat diuji dengan memberi baban pada pelet sampai batas beban tertentu pelet akan hancur. Pakan yang baik harus mempunyai kekerasan yang tinggi, dan biasanya berasal dari bahan baku yang cukup halus. Pengujian ketahanan dalam air (water stability), dilakukan dengan cara mengambil pakan , selanjuntnya merendam pakan dalam air dingin. Waktu yang diperlukan sampai saat pelet hancur merupakan ukuran daya tahan pakan tersebut. Pengujian daya apung, kita lakukan dengan jalan menjatuhkan pakan kedalam air, waktu yang diperlukan mulai saat pelet menyentuh permukaan air sampai tenggelam di dasar, adalah merupakan ukuran daya apungnya.


Evaluasi Pakan Secara Biologis
Tujuan Evaluasi bahan pakan secara biologis adalah Secara Biologis
Untuk mengetahui kecernaan pakan dan Untuk mengetahui palatabilitas. Evaluasi Biologis dari Makanan Ternak cukup sering, uji biologis digunakan dalam analisis dari mikronutrient pada makanan. ada dua jenis dasar dari uji biologis – (1) uji mikrobiologis, dan (2) penggunaan binatang yang kekurangan – nutrient. Uji biologis cenderung sulit dan memakan waktu. Sejumlah besar sampel diperlukan untuk menghasilkan hasil statistik yang dapat dipercaya dan cukup sering data yang didapatkan dari uji ini adalah sangat bervariasi. Uji menggunakan binatang yang kekurangan nutrient adalah terutama tidak praktis karena (1) binatang harus mempunyai jenis kelamin yang sama dan diperkirakan usia dan beratnya sama dan (2) waktu yang dibutuhkan untuk memasukan kondisi yang kurang baik pada binatang – binatang ini. 
Pengujian biologis sangat penting terutama untuk milihat nilai Konversi Pakan (Feed Conversion Ratio). Nilai ini sebenarnya tidak merupakan angka mutlak, karena tidak hanya ditentukan oleh kualitas, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, seperti jenis, ukuran ikan, kepadatan, kualitas air dll. Semakin kecil nilai konversi pakan, semakin baik kualitas pakan, karena akan semakin ekonomis. Untk mengetahui nilai konversi pakan perlu dilakukan dilakukan pengujian lapangan pada berbagai tipe percobaan.

UJI MIKROBIOLOGIS
Dalam uji mikrobiologis, sebuah mikroorganisme dipilih yang dikenal untuk menentukan nutrient dalam pertanyaan. Karena itu, jika nutrient tidak ada, mikroorganisme yang dipilih tidak akan tumbuh. Pertumbuhan medium adalah dipersiapkan sehingga secara nutrisi melengkapi kecuali untuk nutrient yang akan diuji. Level – level yang ditingkatkan dari nutrient kemudian ditambahkan pada media dan kurva respon pertumbuhan dipersiapkan. Sampel untuk di uji kemudian dapat dites dan dibandingkan dengan kurva respon pertumbuhan untuk menentukan konsentrasi nutrient. Banyak dari mikronutrient, seperti vitamin B kompleks, adalah diuji dengan cara ini. 

KEKURANGAN NUTRISI BINATANG
Pada jenis pengujian ini, experimental binatang, seperti tikus dan anak ayam, diberikan makanan yang kurang dalam sebuah nutrient tertentu. Kurva respon pertumbuhan adalah dikembangkan dengan memberi makan sejumlah nutrisi pada beberapa binatang yang kekurangan nutrisi. Binatang lainnya yang kurang baik memberkan produk untuk diuji dan respon mereka dibandingkan dengan kurva pertumbuhan. Sebagai tambahan, evaluator dapat mengamati perubahan dalam jaringan khusus sebagai level yang beragam dari nutrient khusus yang di supplay.  Contoh yang istimewa dari jenis assay ini adalah bioassay untuk vitamin A. Tikus betina muda diawali diberikan vitamin A – makanan kurang baik untuk mengosongkan cadangan makanan. Makanan yang akan diuji dan level yang ditingkatkan dengan konsentrasi yang diketahui dari vitamin A adalah untuk memberi makan tikus yang kekurangan vitamin A. Tiga parameter kemudian diukur untuk menentukan kandungan vitamin A dari makanan;
1. Respon pertumbuhan
2.Konsentrasi vitamin A di liver tikus dari beragam perawatan.
pengujian tingkat cornification dari vaginal epithelium. Pada kekurangan vitamin A, lapisan dari vagina mengalami cornification.

Penentuan Pencernaan In Vitro:
Banyak peneliti menggunakan tekhnik pencernaan in vitro untuk memperkirakan kadar cerna dari berbagai makanan. Bebrapa peneliti menyebutnya sebagai evaluasi rumen buatan. Cairan ruminal diperoleh baik dari pemompaan perut atau koleksi melaui rumen fistula dan disaring melalui kain kartun tipis. Pipa uji mengandung buffer dan sampel makanan disuntik dengan cairan yang mendung, secara teori, sebuah sampel representatif dari mikroflora rumen. Sampel tersebut kemudian dijaga pada suhu tubuh hewan dalam suatu lingkungan karbondioksida (anaerobik). Dalam lingkungan ini, mikroba mencerna sampel makanan.


Evaluasi Bahan Pakan Secara Kimia
Tujuan evaluasi bahan pakan secara kimia adalah untuk mengetahui persetase kandungan suatu zat yang terdapat pada suatu bahan pakan. Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui kandungan gizi dari pakan tersebut, yaitu kadar protein, lemak, karbohidrat, abu, serat dan kadar air. Pengujian ini dapat dilakukan di laboratorium. Parameter yang diuji antara lain energi gross, protein kasar, lemak kasar dan kandungan serat.
Uji Kimia dalah nilai suatu zat yang ada di dalam sampel yang bisa diketahui dengan adanya suatu reaksi kimia. Kualitas kimia yang minimal harus di-ketahui oleh pelaku usaha ayam adalah kadar air (KA), protein kasar (PK), lemak kasar (LK), serat kasar (SK), abu, kalsium (Ca), fosfor (P) dan energi metabolisme (EM). Hasil analisis ini menentukan formulasi ransum, yaitu seberapa banyak akan digunakan dalam campuran. Kedelapan parameter nutrisi tersebut ada yang dibutuhkan ternak dalam jumlah banyak dan ada yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit.
1.    Colorimetry dan Spectrophotometry
Colorimetry dan spectrophotometry adalah analisis kimia dimana cahaya melewati larutan untuk menghasilkan informasi tentang konsentrasi dari beberapa senyawa. Panjang gelombang tertentu dari cahaya melewati sampel dan jumlah dari cahaya yang diserap oleh sampel memberikan sebuah indikasi dari konsentrasi senyawa yang sedang diuji. Colorimetry berbeda dengan spectrophotometry dimana colorimetry adalah berguna dalam mengukur panjang gelombang dalam wilayah yang terlihat dari spektrum cahaya sedangkan spectrophotometry menggunakan panjang gelombang dalam ultraviolet, terlihat dan wilayah infrared dalam spektrum. 
Prosedur analitis bagi banyak para ahli nutris dan obat – obatan melibatkan keduanya baik colorimetry atau spectrophotometry. Vitamin A adalah contoh baik dari prosedur colorimetric. Uji standar untuk vitamin A adalah pembedaan melibatkan perawatan sampel dengan antimony trichloride. Larutan yang berwarna biru tua dihasikan, intensitas yang tergantung pada sejumlah Vitamin A dalam Sampel. Solusi dari konsentrasi yang tidak diketahui adalah diukur dalam colorimeter dan dibandingkan pada serangkaian standar dari konsentrasi yang diketahui. Specthrophotometric uji adalah sama pentingnya dengan colorimetric uji kecuali peneliti mempunyai mesin yang lebih berguna untuk mengerjakannya. 
Penyerapan atomik spectrophotometer adalah salah satu alat yang paling banyak digunakan untuk analisis material, mempunyai kemampuan untuk mendeteksi banyak mineral pada konsentrasi kurang dari 1 bagian per milyar (1 mcg/kg sampel). Sebagai tambahan pada sensitivitas yang tinggi, mesin ini siap disesuaikan dengan otomatisasi, jadi menunjukan ahli kimia metoda yang cepat dan akurat dari analisis makanan. Penyerapan atomik spectrophotometer bekerja dengan prinsip yang sedikit berbeda dari spectrophotometer biasa. Prinsip utama dalam mesin ini adalah ketika senyawa tertentu (sebagai contoh, mineral) diuapkan, mereka memancarkan cahaya dari sebuah karakteristik panjang gelombang. Mesin disesuaikan untuk mendeteksi cahaya ini. 

2. Metode Van Soest 
Meskipun sistem Weende tentang analisis pakan selama bertahun-tahun telah dan terus menjadi sebuah perangkat yang berguna untuk memprediksi nilai kandungan nutrisi dalam pakan, namun bukan berarti sistem ini tak memiliki kekurangan atau tak butuh beberapa perbaikan. Faktanya, sistem ini memiliki beberapa keterbatasan nyata, khususnya dalam kaitannya dengan serat mentah (crude fiber) dan pecahan-pecahan ekstraksi yang bebas nitrogen.
A. Yang pertama, serat mentah ketika diteliti bukanlah zat yang seragam secara kimiawi namun sebuah campuran berbagai unsur, unsur-unsur utamanya adalah selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Meskipun selulosa dan hemiselulosa memiliki nilai kandungan nutrisi yang hampir sama, keduanya memiliki nilai pakan yang jauh lebih tinggi untuk hewan pemamah biak dibandingkan untuk hewan non-pemamah biak. Di sisi lain, ligin sebagian besar mudah dicerna oleh semua ternak. Yang lebih memperumit situasinya adalah fakta bahwa hanya sebuah bagian hemiselulosa dan ligin yang dihasilkan dalam pecahan serat mentahnya, dengan bagian-bagian sisanya yang muncul sebagai NFE, yang biasanya dianggap sebagian besar tersusun dari gula dan kanji yang sangat mudah dicerna. Akibatnya, sampai pada taraf dimana hemiselulosa – dengan digestibilitas yang rendah – dan lignin – yang mudah dicerna – terdapat di dalam pecahan NFEnya, pecahan ini akan lebih besar dan memiliki digestibilitas rata-rata yang lebih rendah dibandingkan jika pecahan tersebut tersusun dari gula dan kanji. Pada saat yang sama, nilai serat mentahnya tidak akan mencerminkan semua bagian pakan yang dapat dicerna. 
Banyak para pekerja selama beberapa tahun terakhir telah menguji berbagai prosedur yang mungkin dapat memberikan pemisahan karbohidrat dalam pakan secara lebih pasti daripada apa yang dihasilkan sistem Weende tentang analisis kurang lebih. Hal ini berlaku khususnya dari sudut pandang pengevaluasian kumpulan pakan. Sebuah prosedur yang mendapatkan banyak perhatiansebagai sebuah pengganti penentuan serat mentah konvensional dikembangkan oleh Van Soest dan rekan-rekannya, yang bekerja di laboratorium riset ARS miliki USDA di Beltsville, Maryland. Proses ini mengharuskan pemisahan bahan kering pakan ke dalam dua pecahan (fraction) – pecahan yang pertama yang memiliki daya cerna (digestibilitas) yang baik dan yang kedua yang memiliki digestibilitas yang buruk – dengan mendidihkan 0,5-1,0 g sampel pakan di dalam sebuah larutan deterjen netral (3% sodium lautrl sulfate yang dibufferkan ke pH 7,0) selama satu jam dan dilakukan penyaringan.
A. Larutan deterjen netral yang mudah larut (NDS) adalah bagian terbesar kandungan sel, yang utamanya terdiri dari lipid, gula, kanji dan protein dan semuanya memiliki digestibilitas yang tinggi, yang memiliki digestibilitas rata-rata sekitar 98%. Digestibilitas tersebut tampaknya tidak dipengaruhi oleh banyaknya larutan-larutan deterjen netral yang tak dapat larut yang ada.
Larutan-larutan deterjen yang sulit larut tersebut biasanya disebut sebagai serat deterjen netral (NDF). Larutan ini merupakan bagian terbesar dinding sel tanaman dan kadang-kadang disebut sebagai unsur-unsur dinding sel atau unsur pembentuk dinding sel, yang banyak tersusun dari selulosa, lignin, silika, hemiselulosa dan beberapa protein.
Dalam prosedur Van Soest, semua lignin dan hemiselulosa dimasukkan di dalam pecahan NDF, sementara pada metode Weende, dua unsur tersebut dihilangkan dari serat mentah ke NFEnya. Sebagai akibatnya, NDF ketika ditentukan dengan prosedur Van Soest jauh lebih tinggi daripada nilai serat mentah konvensional untuk beberapa pakan. 
Untuk menentukan ligin dalam sebuah sampel hijauan, Van Soest mengedepankan penggunaan apa yang dikenal sebagai prosedur liginin deterjen asam. Dalam metode ini, prosedur tersebut digunakan sebagai langkah persiapan. Proses ini mengharuskan perebusan 1,0 sampel bahan yang dikeringkan-udara dalam sebuah larutan deterjen asam (49,04 g solutic acid dan 20 g cetyl trimethylammonium bromide per liter) selama satu jam dan dilakukan penyaringan. Larutan-larutan yang tak dapat larut atau residu-residunya membentuk apa yang dikenal sebagai serat deterjen asam (ADF) dan terdiri dari selulosa, lignin dan silika dalam beragam jumlah. ADF berbeda dari NDF karena NDF mengandung sebagian besar hemiselulosa pakan dan di dalam ADF tidak terdapat protein. Perbedaan jumlah NDF dan ADF adalah sebuah penghitungan hemiselulosa dalam pakan. Untuk menentukan banyaknya lignin yang ada, ADF kemudian dicerna di dalam 72% H¬¬2SO4 pada suhu 15oC selama 3 jam dan disaring. Residu yang tersisa setelah pencucian dan pengeringan ditimbang dan dibuat jadi serbuk. Serbuk yang tersisia memperlihatkan silika yang ada, sementara berkurangnya berat selama pembentukan serbuk memperlihatkan lignin dan disebut sebagai lignin deterjen asam (ADL) dan secara lebih spesifik sebagai lignin yang tak dapat larut dalam asam. Sebagai sebuah metode alternatif untuk mengetahui kadar lignin yang memiliki beberapa kelebihan untuk bahan-bahan tertentu mengharuskan dilakukannya oksidasi lignin ADF yang memiliki kelebihan larutan potassium permanganate yang dibufferkan asam acetik. Lignin yang ditentukan kadarnya seperti ini disebut lignin permanganate. Variasi metode ini dapat digunakan menyisihkan kutin yang terdapat di banyak kulit benih, yang jika tidak, akan diukur kembali. 
Suhu pemrosesan hijauan di atas 50oC cenderung meningkatkan produksi lignin pada kedua metode di atas khususnya lewat produksi lignin artifak melalui reaksi pencoklatan non-enzimatik. Kandungan nitrogen ADF dianggap sebagai ukuran yang sensitif untuk tingkat kerusakan tersebut dan berperan sebagai dasar untuk memperkirakan lignin artifak. 
Segera sesudah NDS, NDF, ADF, dan ADL telah ditentukan untuk sebuah hijauan, digestibilitas sesungguhnya bahan kering hijauan dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut: 
0,98 NDS + (1,473 – 0,789 log10 lignin) NDF dimana di dalamnya NDS dan NDF dinyatakan sebagai persentase bahan kering hijauannya, dan lignin adalah persentase lignin yang dapat dapat larut dalam asam di dalam pecahan ADFnya.
Sehingga, digestibilitas bahan kering hijauan dapat dihitung dengan mengurangi angka digestibilitas sesungguhnya, sebuah pengurangan bahan kering metabolik yang ada dalam feces, yang menurut Van Soest pada jumlah rata-rata 12,9% konsumsi bahan keringnya. 
3. Analisis Proksimat
Analisis Proksimat adalah suatu metoda analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan zat makanan dari suatu bahan pakan / pangan.
Istilah proksimat mengandung arti bahwa hasil analisisnya tidak menunjukkan angka sesungguhnya, tetapi mempunyai nilai Mendekati. Hal ini disebabkan komponen dari suatu fraksi masih mengandung komponen lain yang jumlahnya sangat sedikit yang seharusnya tidak masuk kedalam fraksi yang dimaksud. Namun demikian analisi kimia ini adalah yang paling ekonomis (relaif) dan datanya cukup memadai untuk digunakan dalam penelitian dan keperluan praktis.
Prinsip Kerja Prosedur Analisis Proksimat:
a.    Analisis Air
Menguapkan air yang terdapat dalam bahan dengan oven dengan suhu 100-100 oC dalam jangka waktu tertentu (3-24 jam) hingga seluruh air yang terdapat dalam bahan menguap atau penyusutan berat bahan tidak lagi berubah.
% = Berat awal bahan – Berat akhit bahan setelah di oven X 100%
Berat awal bahan
b.     Analisis Abu
Membakan bahan dalam Tanur dengan suhu 600oC selama beberapa waktu (3-8 jam) sehingga seluruh unsur utama pembentuk senyawa organik (C, H, O, N) habis terbakar dan berubah menjadi gas, sisanya yang tidak terbakar adalah abu yang merupakan kumpulan dari mineral-mineral yang terdapat dalam bahan, dengan kata lain abu merupakan total mineral bahan.
c.    Analisis Protein
Penerapan niali protein kasar dilakukan secara tidak langsung karena analisis ini didasarkan kepada penentuan kadar nitrogen yang terdapat dalam bahan. Kandungan nitrogen yang diperoleh dikalikan dengan angka 6,25 sebagai angka konversi menjadi nilai protein. Nilai 6,25 diperoleh dari asumsi bahwa protein mengandung 16% nitrogen ( perbandingan protein dan nitrogen = 100 : 16 = 6.25:1). Pnentuan nitrogen dalam analisa ini melalui 3 tahap analisis kimia, yaitu destruksi
Menghancurkan bahan menjadi komponen sederhana sehingga N dalam bahan terurai dari bahan organiknya kemudian di ikat oleh H2SO4 menjadi (NH4)2SO4, destilasi Pengikatan komponen organik tidak hanya pada nitrogen saja tetapi juga pada komponen lain, oleh karena itu nitrogen harus diisolasi untuk melepaskan nitrogen dalam larutan hasil destruksi adalah dengan membentuk gas NH3, Pemberian NaOH 40% bila dipanaskan akan berubah menjadi gas NH3 dan air yang kemudian dikondensasi
NH3 akhirnya ditangkap oleh larutan asam borat 5% membentuk (NH4)3 BO3  dan titrasiNitrogen dalam (NH4)3 BO3 ditentukan jumlahnya dengan cara titrasi dengan HCl.
d.    Analisis Lemak Kasar
Melarutkan (ekstraksi) lemak yang terdapat dalam bahan dengan pelarut lemak (ether) selama beberapa waktu (3-8 jam) ekstraksi mengunakan alat gold fisch. Beberapa pelarut yang dapat digunakan adalah: kloroform proteleum benzena, aseton, heksana. Lemak yang terekstraksi oleh larutan lemakterakumulasi dalam wadajh pelarut (labu socklet dan gold fisch) kemudian dipisahkan dari pelarutnya dengancara dipanaskan dalam oven suhu 105 oC, pelarut akan menguap sedangkan lemak tidak (titik didh lemak lebih dari 105oC) sehinga tidak menguap dan tinggal dalam wadah, lemak yang tinggal dalam wadah ditentukan beratnya.

e.    Analisis Serat Kasar
Komponen dalam suatu bahan yang tidak dapat larut dalam pemamasan dengan asam encer dan basa encer selama 30 menit adalah serat kasar maka bagian yang tidak larut tersebut residu) dibakar sesuai denga prosedur analisis abu selisih antara residu dengan abu adalah serat kasar.

Evaluasi Bahan Pakan Secara Ekonomis
Pengujian pakan secara ekonomis artinya pengujian bahan pakan yang memenuhi syarat berikut:
1.    Mudah diperoleh
2.    Tidak menganggu kesehatan ternak
3.    Tidak bersaing dengan kebutuhan manusia
4.    Mengandung zat yang dibutuhkan oleh ternak
5.    Tidak mahal










BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Evaluasi bahan pakan dapat dilakuakan secara fisik, kimia, biologi maupun ekonomis yang mempunyai tujuan untuk memastikan bahan baku atau ransum jadi benar-benar berkualitas sesuai dengan apa yang diharapkan.


Saran
Uji kualitas sebaiknya dilakukan secara periodik, disetiap kedatangan bahan baku dan ransum maupun saat terjadi perubahan supplier.










DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Pentingnya Uji Kualitas Ransum. http://info.medion.co.id/index.php/artikel/layer/tata-laksana/pentingnya-uji-kualitas-ransum. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2012.

Anonim. 2011. Evaluasi Kecernaan Jagung secara Kimia. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/56482. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2012.

Anonim. 2012. Pengujian Mutu Pakan Buatan. http://penyuluhpi.blogspot.com/2012/10/pengujian-mutu-pakan-buatan-secara.html. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2012.

Awal. 2011. Pengenalan Bahan Pakan Secara Makroskopis. http://awalfreakuh.blogspot.com/2011/11/pengenalan-bahan-pakan-secara.html. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2012.

Diandra. 2011. Nutrisi, Pakan dan menejemen Produksi. http://diandrabooks.wordpress.com/category/brillian-internasional/. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2012.

Hamza. 2010. Laportan Nutrisi. http://ardihamza.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2012.

Hasugian, N. 2009. Evaluasi Pakan. http://novalinahasugian.blogspot.com/2009/05/evaluasi-pakan.html. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2012.

Perius, Y. 2011. Kualiatas Pakan. http://yulfiperius.files.wordpress.com. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2012.

Jajo. 2008. Evaluasi Pakan. http://jajo66.wordpress.com/2008/05/24/evaluasi-pakan/. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar