Kamis, 18 April 2013


Makalah Kelompok
Mata Kuliah : Fisika Dasar


OPTIKA GEOMETRI

OLEH:
KELOMPOK X (SEPULUH)

SYAHRIANA SABIL                         NIM I111 11 273
AYU PRASETYA TW.                      NIM I111 11 101
MUH. RIFKI RAFSANJANI                        NIM I111 11 285
ROMY SETIAWAN SURULLAH   NIM I111 11 106


UNHAS
 










UNIT PELAKSANA TEKNIS MATA KULIAH UMUM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012
KATA PENGANTAR


Puji dan syukur tim penulis panjatkan ke hadirat Allh SWT, karena atas berkat rahmat dan taufik-Nya sehingga dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Melalui kesempatan ini tim penulis dengan rendah hati mengucapakan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan membimbing penulis dalam menyelesaikan makalah ini utamanya kepada,
1.      Ibu Dosen selaku pembimbing mata kuliah Fisika Dasar yang telah mencurahkan perhatian untuk membimbing dan mengarahkan tim penulis dalam penyusunan makalah ini.
2.      Kedua orang tua yang memberikan bantuan dan dukungan bagi tim penulis sehingga makalah ini dapat terselesikan.
3.      Rekan-rekan yang telah memberikan bantuan hingga terselesainya makalah ini tepat waktu.
Tim penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dri kesempurnaan, karena terbatasnya kemampuan dan waktu yang tersedia. Untuk itu saya memohon maaf atas kekurangan tersebut.
Semoga makalah ini akan bermanfaat bagi pembaca dan dapat membantu dalam melaksanakan tugas-tugas masa yang akan datang.

Makassar,    April  2012

                                                                                              Kelompok X,




DAFTAR ISI


Halaman
HALAMAN JUDUL                                                                                     i
KATA PENGANTAR                                                                                 ii
DAFTAR ISI                                                                                                 iii        
BAB I. PENDAHULUAN                                                                           1
A.    LATAR BELAKANG                                                                      1
B.     MASALAH                                                                                       2
BAB II. PEMBAHASAN                                                                             3
A.    REFLEKSI DAN REFRAKSI                                                         3
1.      Refleksi Pada Cermin Datar                                                        3
2.      Refleksi Pada Cermin Sferis                                                        6
3.      Refraksi                                                                                        9
B.     KEKUATAN LENSA                                                                      14
C.     LENSA GABUNGAN                                                                     14
D.    ABERASI LENSA DAN CERMIN                                                            16
BAB III. PENUTUP                                                                                     18
A.  KESIMPULAN                                                                                  18
B.   SARAN                                                                                              19       
DAFTAR PUSTAKA                                                                                  20







BAB I
PENDAHULUAN


A.  LATAR BELAKANG
Indra penglihatan sangat penting bagi kita, karena memberikan sebagian besar informasi mengenai dunia. Bagaimana kita melihat ? Apa yang disebut dengan cahaya yang memasuki mata dan menyebabkan sensasi penglihatan? Bagaimana perilaku cahaya sehingga kita bias melihat semua yang kita lakukan ?
Kita melihat benda dengan salah satu dari dua cara :
1.      Benda tersebut mungkin merupakan sumber cahaya, seperti bola lampu, berkas api, atau bintang, di mana kita melihat cahaya yang langsung dipancarkan dari sumbemya.
2.      Benda dapat terlihat karena dapat memantulkan cahaya, yang mungkin sumbel cahayanya berasal dari matahari, cahaya buatan atau api perkemahan.
Bagaimana model berkas cahaya? Banyak bukti menunjukkan bahwa cahaya berjalan menempuh garis lurus pada berbagai keadaan. Sebagai contoh. sebuah sumber cahayr titik seperti matahari menghasilkan bayangan, dan sinar lampu senter tampak merupakan garis lurus. Anggapan umum tentang model berkas cahaya menunjukkan bahwa cahaya bergerak dari benda tersebut ke mata kita dengan lintasan ga'is lurus yang disebut sebagai berkas cahaya. Berkas merupakan idealisasi untuk merepresentasikan sinar cahaya yang sangat sempit, cahaya mencapai mata dari setiap titik pada bendanya namun walanpun berkas cahaya meninggalkan setiap titik dengan banyak alah hanya satu kumpulan kecil dari berkas-berkas tersebut yang dapat masuk pada mata kita. Jika kepala kita bergese. ke satu sisi, maka kumpulan berkas yang lain akan masuk pada mata kita. Moder berkas inilah yang dapat dideskripsikan bahwa cahaya dapat dipanrulkan, dibiaskan cran arcatt membentuk bayangan .iika melewati lensa atau cermin.
Cahaya yang melibatkan berkas lurus dengan berbagai sudut merupakan kajian prda Optika Geometri. Berikut akan dibahas propagasi cahaya dalam material yaitu optik geometri. Pada hakekatnya cahaya adalah gerombang erektromagnetik yang dapat merambat daram medium dan dalam ruang hampa. Dalam medium yang bersifat homogen, propagasinya berbentuk garis lurus. Ada tiga jenis propagasi berkas cahaya yakni konvergen (mengumpulkan), divergen (menyebarkan), dan paralel (sejajar).

B.  MASALAH
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.      Refleksi dan Refraksi.
2.      Kekuatan Lensa
3.      Lensa Gabungan
4.      Aberasi Lensa dan Cermin.















BAB II
PEMBAHASAN



A. REFLEKSI DAN REFRAKSI
1. Refleksi pada Cermin Datar
Jika suatu gelombang cahaya jatuh pada suatu permukaan cermin datar, maka sebagian dari cahaya akan dipantulkan. Sisanya diserap oleh benda (dan diubah menjadi energi panas) atau jika benda tersebut transparan seperti kaca atau air, maka sebagian akan diteruskan. Untuk benda-benda yang sangat mengkilat seperti cermin berlapis perak, lebih dari 95% cahaya bisa dipantulkan.

Gambrar 1. Berkas cahaya datang dipantulkan di atas permukaan datar.
Menurut gambar di atas, ketika satu berkas cahaya sempit menimpa permukaan yang rata (datar) kita defenisikan sudut datang (ɵi) sebagai sudut yang dibuat berkas sinar dating dengan garis normal terhadap permukaan (normal berarti tegak lurus) dan sudut pantul (ɵr) sebagai sudut yang dibuat berkas sinar pantul dengan normal. Untuk permukaan yang rata memenuhi hukum pemantul.an yaitu suilut d.atang sama dengan sudut pantul. Ketika cahaya menimpa permukaan kasar. maka pantulan akan memiliki banyak arah (pantulan tersebar).
Jika kita memandang cermin dari samping, berkas-berkas cahaya akan terpantul dari permukaan depan. Berkas-berkas cahaya meninggalkan setiap titik pada benda dengan berbagai arah tetapi hanya yang melingkupi kumpulan berkas yang mencapai mata yang digambarkan. Berkas-berkas simpangan yang memasuki mata tampak dating dari belakang cermin sebagaimana ditunjukkan oleh garis putus-putus. Artinya mata dan otak kita menterjemahkan berkas manapun yang memasuki mata sebagai berkas yang telah menempuh lintasan garis lurus.
Titik dari mana setiap kumpulan berkas tampaknya berasal adalah satu titik pada bayangan. Untuk setiap titik pada benda, ada satu titik bayangannya. pada gambar 2 tampak bayangan muncul dibelakang cermin dengan jarak yang sama seperti jarak benda di depannya, Berdasarkan geometri juga terlihat bahwa tinggi benda sama dengan tinggi bayangan. Sebenamya berkas-berkas tidak melewati bayangan hanya karena otak kita menterjemahkan semua cahaya yang masuk sebagai cahaya yang datang dengan lintasan lurus. Sehingga sifat - sifat cermin datar antara lain :
a.       jarak bayangan ke cermin = jarak bayangan ke cermin
b.      tinggi bayangan yang terbentuk = tinggi bendanya
c.       bayangan maya, karena dibelakang cermin, yang dibentuk oleh perpanjangan perpotongan sinar pantul.
Gambar 2. Pembentukan bayangan nyata oleh permukaan cermin datar
Contoh:
Seseorang dengan tinggi 1,60 m berdiri di depan cermin datar vedical. Berapa tinggi cermin minimum, dan berapa tinggi bagian bawahnya dari lantai agar orang tersebut dapat melihat seluruh tubuhnya. (anggap matanya berada 10cm di bawah bagian atas kepalanya).
Penyelesaian :
Berdasarkan gambar, mekanisme berkas cahaya dapat ditelusuri dari kaki (AB), oleh dasar cermin dipantulkan ke mata (BE). Karena sudut pantulan sama dengan sudut dating, maka tinggi BD adalah setengah dari tinggi AE dimana :

AE = AG - GE =1,60m-0,10m= 1,50m, maka BD=0,75m. Dengan cara yang sama, agar orang tersebut dapat melihat bagian atas kepalanya, sisi atas cermin hanya perlu mencapai titik F yang berada 5 cm di bawah bagian aras kepalanya (1/2 GE). Dengan demikian, DF=1,55m dan cermin hanya perlu merniliki. ketinggian vertical ( 1,55m-0,75m=0,80m). Dan sisi bawah cermin harus 0,75m di atas lantai. pada umumnya, tinggi cermin hanya perlu setengah dari tinggi orang agar orang tersebut melihat seluruh tubuhnya, bahkan hasil ini tetap akan sama prosedumya meskipun jarak orang ke cermin berubah.


2.    Refleksi pada Cermin Sferis
Cermin lengkung yang umum berbentuk sferis, yang berarti cermin tersebut akan membentuk sebagian dari bola. Cermin sferis disebut cembung jika pantulan terjadi pada permukaan luar bentuk sferis sehingga pusat permukaan cermin menggembung ke luar menuju orang yang melihat. Sebaliknya cermin dikatakan cekung jika permukaan pemantulannya ada pada permukaan dalam bola sehingga pusat cermin melengkung menjauhi orang yang melihat (seperti gua). Cermin cekung digunakan untuk bercukur atau cermin rias dan cermin cembung digunakan phda mobil dan truk (kaca spion) dan di toko-toko (untuk mengawasi pencuri) karena cermin ini memperlihatkan medan pandang yang luas. Karakter sinar utama pada cermin cekung dan cermin cembung adalah :
1.      Sinar datang yang sejajar sumbu utama akan dipantulkan melewati titik focus
2.      Sinar dataug yang melewati titik fokus dipantulkan sejajar dengan sumbu utama
3.      Sinar datang lewat titik pusat akan dipantulkan melewati titik utama juga.
Perbedaannya adalah pusat kelengkangan dan titik fokus cermin pada cermin cekung di depan cermin sedangkan pada cermin cembung berada di belakang cermin. Sehingga untuk jarak focus (R), Untuk cermin cekung bernilai positif sedangkan untuk cermin cembung bernilai negative.
Gambar 3. Diagram berkas cahaya pada cermin cekung dengan F= titik fokus, P = pusat kelengkungan cermin, SU= sumbu utama, R= jari-jari kelengkungan, F panjang focus,  S = jarak benda ke cermin, Si=jarak bayangan ke cermin, (a) cermin cekung (b) cermin cembung

Berdasarkan pemantulan berkas-berkas cahaya tersebut di atas maka dapat diketahui bahwa cermin cembung mempunyai sifat-sifat :
a.       menyebarkan berkas cahaya, yang disebut dengan sifat divergen.
b.      Bayangan yang dibentuknya selalu dibelakang cermin, yaitu yang terbentuk dari perpotongan perpanjangan cahaya pantul, ini menghasilkan bayangan maya
c.       Selain bayangan maya, bayangan itu selalu diperkecil.
Khusus pada cermin cekung sifat-sifat bayangan benda yang dihasilkan dapat diketahui berdasarkan pembagian ruang tempat benda dan bayangan. yaitu :
I = ruang antara cermin dengan titik fokus (F)
II = ruang antara titik pusat (P) dengan titik fokus (F)
III = ruang antara titik pusat (P) sampai jauh tak ber.hingga
IV = ruang dibelakang cermin.
Dengan ketentuan :
Jumlah ruang tempat benda + ruang tempat bayangan = V (lima)
Misalkan : kalau benda diruang I maka bayangannya pasti di ruang IV, demikian juga bila benda di luang III maka bayangan harus di ruang II.
Ketentuan Iain terhadap pembentukan bayangan pada cermin cekung adalah:
a.       Bila benda berada pada titik p, bayangannya juga akan berada pada titik p dan bersifat nyata, terbalik dan sama besar.
b.      Bila benda berada di titik F, maka bayangannya berada di jauh tak berhingga.
c.       Dan sebaliknyajika benda berada dijauh tak berhingga, maka bayang-bayangya akan berada di tirik F.
Perumusan yang digunakan untuk hubungan, S, S, dan R serta untuk menghitung perbesaran (I1) bayangan yang terbentuk :


dengan ,= tinggi benda dan h,=tinggi bayangan, tanda mutlak digunakan supaya harga
perbesaran selalu positif.
Contoh 2 :
Sebuah benda tingginya 2 cm, ber.diri tegak di depan sebuah cermin cembung yang
mernpunyai jejari kelengkungan 20 cm. Apabila benda berada sejauh 15 cm di depan cermin, tentukanlah :
a. perbesaran
b. tinggi bayangan
Penyelesaian :
Karena cermin cembung, maka nilai/dan R negatif sehingga :

a.      Perbesarannya:
b.      Tinggi bayangannya:

3.     Refraksi (Pembiasan)
Indeks Bias
Laju cahaya dalam ruang udara hampa adalah c = 3,00x108 m/s2. Laju ini berlaku untuk   semua gelombang elektromagnetik, termasuk cahaya tampak. Di udara, laju telsebut hanya sedikit lebih kecil. Pada benda transparan lainnya, seperti kaca dan air, kelajuan selalu lebih kecil dibanding di udara hampa. Sebagai contoh, di air cahaya merambat kira-kira dengan laju 3/4 c. Perbandingan laju cahaya di udara hampa dengan laju v pada materi tertentu disebut intleks bias (n), dari materi tersebut.

Hukum Pembiasan (Hukum snell)
Ketika cahaya melintas dari suatu medium ke medium lainnya, sebagian cahaya datang akan dipantulkan pada perbatasan. Sisanya lewat ke medium yang baru. Jika seberkas cahaya datang dan membentuk sudut terhadap permukaan (bukan hanya tegak lurus), berkas tersebut dibelokkan pada waktu memasuki medium yang baru. Pembelokan ini disebut pembiasan" Gambar 4. menunjukkan sebuah berkas yang merambat dari udara ke air. Sudut 02 adalah sudut datang dan 02 adalah sudut bias. Perhatikan bahwa berkas dibelokkan menuju normal ketika memasuki air. Hal ini selalu terjadi ketika berkas cahaya memasuki medium di mana Lajunya lebih kecil. Sebaliknya berkas cahaya akan dibelokkan menjauhi nolmal jika berkas cahaya memasuki medium di Mana lajunya lebih besar.
Pola pembiasan dapat kita lihat pada kasus: seseorang yang berdiri di air yang dalamnya sepinggang tampak memiliki kaki yang lebih pendek karena berkas yang meninggalkan telapak kaki orang tersebut dibelokkan di permukaan. Demikian pula jika sebuah pensil diletakkan dalam gelas berisi air maka tampak pensil seperi patah.
Gambar 4. Diagram pembiasan mcmrrut hukum snell

Sudut bias tergantung pada laju cahaya kedua media dan pada sudut datang Hubungan analitik antara ɵ1 dengan ɵ2 ditemukan secara eksperimen pada sekitar tahun 1621 oleh Willebrord Snell ( 1591 - 1626) yang dikenal dengan nama hukum snellius.
n1 sin ɵ1 = n2 sin ɵ2
a.    Pembiasan Oleh Kaca Plan Paralel
Seberkas cahaya yang masuk pada kaca plan paralel akan dibiaskan mendekati garis nolmal, tetapi setelah keluar dari kaca tersebut akan dibiaskan kembali keudara tetapi menjauhi garis normal. Sinar yang masuk akan sejajar dengan sinar yang keluar.
Gambar 5. Pembiasan pada kaca plan paralel terjadi pergeseran sinar masuk terhadap sinar keluar.
Dengan perumusan untuk menghitung jarak pergeseran :

b.    Pembiasan OIeh Prisma
Prisma merupakan salah satu alat optik yang berbentuk segitiga sama kaki dengan sudut puncak β. Sudut deviasi yang terbentuk setelah melewati prisma mempkan perpanjangan peryotongan sinar datang dengan sinar keluar (bias) yang menghadap keluar Sudut deviasi akan mencapai harga minimum apabila sinar masuk simetris terhadap sinar keluar atau sudut i1 = sudut r2 dengan demikian sudut r1 = sudut i2 Jadi bila sudut deviasi telah mencapai harga minimum akan berlaku persamaan :
Gambar 6. Pembiasan pada prisma menghasilkandeviasi (pergeseran) sinar masuk terhadap sinar keluar

Sin1/2 (β+ϑm)  = n sin ½ β
Untuk sudut pembias yang sangat kecir maka sinus suatu sudut akan sama besar dengan sudutnya.
Sin ½ (β+ϑm)= ½ (β+ϑm ) atau sin ½ β  = ½ β
sehingga:
½ (β+ϑm) = n. ½ β atau β+ϑm = n . β → ϑm = nβ - β → ϑm = β(n-1)

c.    Pembiasan Oleh Lensa
Lensa adalah benda bening yang tembus cahaya, permukaannya merupakan bidang lengkung sferik. Bila di depan sebuah bidang kelengkungan sferik yang tebar, atau dapat dianggap sebuah lensa yang tebar dengan jejari kelengkungan permukaannya R ditempatkan sebuah benda, maka di dalam medium kerengkungan tersebut akan kita dapatkan bayangan benda yang memenuhi persamaan :


Bila bendanya berada di jauh tak berhingga (S = ῀ ) maka bayangan benda akan berada pada titik fokus kelengkungan tersebut, atau s'=f dengan n=indeks bias udara(n=1) dan n'=indeks bias lensa, maka persamaan di atas menjadi :


Apabila lensa tebal mempunyai hanya sebuah pemukaan, maka lensa tipis mempunyai dua buah permukaan, yang mempunyai jejari kelengkungan R1 dan R2. Untuk lensa tipis ketebalan lensa dianggap'ol atau tidak diperhitungkan. persamaan pembentukan bayangan benda :

 =(

Dengan ketentuan : Untuk lensa cembung-cembung (bekonvek) R1=positif dan R2=negative sebaliknya lensa cekung-cekung (bekonkaf Rr=negatif dan R2=positif. Atau dapat dikatakan R di depan lensa negatif dan R dibelakang lensa positif. Untuk setiap perhitungan digunakan ketentuan : lensa cembung mempunyai f positif sebaliknya lensa cekung mempunyai f negatif.

Gambar 7. Pembentukan bayangan untuk lensa cembung (a). Benda diantara lensa dengan titik F1' (b) Benda diantara jarak fokus dengan dua kali F2, (c) Benda berada lebihjauh dari jarak dua jarak focus F2.

Sifat bayangan yang dihasilkan (menurut gambar 7.) untuk :
(a). Maya (didepan lensa) - tegak - diperbesar
(b). Nyata (dibelakang lensa) - terbalik - diperbesar
(c). Nyata (dibelakang lensa) - terbalik - diperkecil
Sebaliknya untuk lensa cekung, sifat bayangan yang dihasilkan dimanapun berada selalu : maya - tegak - diperkecil.
Contoh 3 :
Sebuah lensa cembung yang tebal, mempunyai indeks bias 1,5 berada di kelengkungannya 25cm, maka jarak fokus lensa cembung tebal tersebut adalah :
Penyelesaian:

Contoh 4 :
Lensa bekonvek mempunyai jejari kelenglqtngan masing-masing 15 cm dan l0 cm dan indeks bias lensa tersebut 1,5 berada di udara rnakajarak fokus lensa adalah :

Penyelesaian :
karena lensa cembung-cembung maka sesuai ketentuan R2=- 10 cm
Bahan iliskusi : Gambarlah masing-masing sifat dari pembentukan menggunakan lensa cekung berdasarlun pembiasan berkas-berkss cahaya pada ruang benda yang berbeila (seperti paila lensa cembung).

B. KEKUATAN LENSA
Kekuntan lensa atau sering juga disebut dengan daya lensa adalah kebalikan jarak fokus lensa. Dengan; f bersatuan meter maka P bersatuan dioptri. Dengan persamaan:

C. LENSA GABUNGAN
Lensa gabungan ini biasanya digunakan dalam alat-alat optik seperti :
a. Mikoskop, menggunakan dua buah lensa positif.
b. Teropong bintang, menggunakan dua brtah lensa positif.
c. Teropong bumi, menggunakan tiga buah lensa positif.
d. Teropong panggung, menggunakan dua buah lensa positif dan satu negatif.
Prinsip pembentukan bayangan oleh lensa pertama sama saja seperti tunggal lainnya, tetapi bayangan yang dibentuk oleh lensa pertama merupakan benda lensa kedua.
Contoh 5 :
Dua lensa konvergen, dengan panjang fokus; = 20,0 cm dan h= 25,0 cm diletakkan berjarak 80,0 cm, seperti pada gambar 7. Sebuah benda diletakkan 60,0 cm di depan lensa pertama.
Tentukan (a). Posisi, (b). Perbesaran, bayangan akhil yang dibentuk oleh kombinasi dua lensa ini.
Penyelesaian :
a.       Benda berada pada jarak Si = + 60'0 cm dari lensa peltama, dan lensa ini membentuk bayangan yang posisinya dapat dihitung dengan menggunakan persamaan lensa :
jadi bayangan pertama berjarak 30,0 cm dari lensa pertama. selanjutnya benda ini menjadi benda untuk lensa kedua. Di mana karena jarak antara lensa 1 dengan 2 adalah 80,0 cm maka jarak benda untuk lensa kedua adalah 80,0-30,0-50,0cm Selanjutnya untuk menghitung jarak bayangan yang dibentuk oleh lensa kedua (menjadi bayangan akhir) :
jadi bayangan kedua berjarak 50,0 cm dibelakang lensa 2.
b.      Lensa pertama dan kedua membedkan pelbesaran sebesar:
Jadi perbesaran total merupakan perkalian M1 dengan M2 sehingga
M1 x M2 = 0,5x1= 0,5 kali
sehingga dikatakan bayangan akhir yang dihasilkan adalah 1/2 kali benda asal.

D. ABERASI LENSA DAN CERMIN
Bayangan yang dibentuk oleh lensa pada umumnya terdapat kesalahan pembentukan bayangan yakni :
1.    Aberasi Sferis
Aberasi sferis adalah suatu gejala kesalalan pembentukan bayangan karena bentuk lingkungan dari lensa, sehingga sinar sejajar sumbu utama yang datang pada lensa tidak semuanya terbias pada satu titik. Kesalahan ini dapat dihindari dengan menggunakan lensa gabungan aplanatis ( dua lensa dengan jenis kaca berlainan)
2.    Koma
Yakni pembagian cahaya pada suatu penampang tidak sama rata. Sinar-sinal yang berasal dari titik cahaya yang terletak di luar len-esa tidak menghasilkan sebuah bayangan titik akan tetapi berbentuk koma. Berkas sinar 1'ang datang pada daerah tepi lengsa membentuk bayangan lingkaran.
3.    Astigmatisme
Bidang horisontal dan vertikal tidak membentuk bayangan yang sama, sehingga bidang vertikal nampak, sedang bidang horisontal tidak nampak.
4.    Distorsi
Distorsi adalah gejala terbentuknya bayangan palsu. Hal ini terjadi bila pembentukan bayangan pada lensa dilakukan dengan menggunakan diafragma atau celah.
5.    Aberasi kromatik
Hal ini terjadi karena tiap berkas sinar monokromatik mempunyai titik api sendiri-sendiri, karena indeks bias setiap berkas sinar berbeda. Hal ini akan menyebabkan berkas polikhromatik setelah melewati lensa akan tcrurai menjadi beberapa warna.
Mata manusia dan kamera (fotografi) memiliki kesamaan yakni keduanya membentuk bayangan nyata terbalik. Cahaya masuk ke dalam mata melalui selaput tipis (kolnea) yang menutupi tonjolan transparan pada bola mata. Jumlah cahaya yang masuk ke dalam mata lewat pupil diatul oleh iris (serupa dengan diafragma lensa) dengan mengatur ukurannya. Pada kornea terjadilah pembelokan cahaya terbesar kalena perubahan indeks bias yang besar (nudara = 1 dan ucair  = 1,336).























BAB III
PENUTUP




A.  KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Sifat - sifat cermin datar antara lain :
a.       jarak bayangan ke cermin = jarak bayangan ke cermin
b.      tinggi bayangan yang terbentuk = tinggi bendanya
c.       bayangan maya, karena dibelakang cermin, yang dibentuk oleh perpanjangan perpotongan sinar pantul.
2.    Karakter sinar utama pada cermin cekung dan cermin cembung adalah :
a.  Sinar datang yang sejajar sumbu utama akan dipantulkan melewati titik focus
b.  Sinar dataug yang melewati titik fokus dipantulkan sejajar dengan sumbu utama
c.  Sinar datang lewat titik pusat akan dipantulkan melewati titik utama juga.
Perbedaannya adalah pusat kelengkangan dan titik fokus cermin pada cermin cekung di depan cermin sedangkan pada cermin cembung berada di belakang cermin. Sehingga untuk jarak focus (R), Untuk cermin cekung bernilai positif sedangkan untuk cermin cembung bernilai negative.
3.    Cermin cembung mempunyai sifat-sifat :
a.       menyebarkan berkas cahaya, yang disebut dengan sifat divergen.
b.      Bayangan yang dibentuknya selalu dibelakang cermin, yaitu yang terbentuk dari perpotongan perpanjangan cahaya pantul, ini menghasilkan bayangan maya.
c.       Selain bayangan maya, bayangan itu selalu diperkecil.
4.    Cermin cekung sifat-sifat bayangan benda yang dihasilkan dapat diketahui berdasarkan pembagian ruang tempat benda dan bayangan. yaitu :
a.       I = ruang antara cermin dengan titik fokus (F)
b.      II = ruang antara titik pusat (P) dengan titik fokus (F)
c.       III = ruang antara titik pusat (P) sampai jauh tak ber.hingga
d.      IV = ruang dibelakang cermin.
Dengan ketentuan : Jumlah ruang tempat benda + ruang tempat bayangan = V (lima).
5.    Hukum Pembiasan (Hukum snell) : seberkas cahaya datang dan membentuk sudut terhadap permukaan (bukan hanya tegak lurus), berkas tersebut dibelokkan pada waktu memasuki medium yang baru.
6.    Lensa gabungan digunakan dalam alat-alat optik seperti :
a. Mikoskop, menggunakan dua buah lensa positif.
b. Teropong bintang, menggunakan dua brtah lensa positif.
c. Teropong bumi, menggunakan tiga buah lensa positif.
d. Teropong panggung, menggunakan dua buah lensa positif dan satu negatif.
7. Bayangan yang dibentuk oleh lensa pada umumnya terdapat kesalahan pembentukan bayangan yakni :
a. Aberasi Sferis
b. Koma
c. Astigmatisme
d. Distorsi
e. Aberasi kromatik

B.  SARAN
Sebaiknya mahasiswa diberi kesempatan untuk mempraktekkan optik geometri agar dapat mengetahui langsung aplikasi dalam kehidupan sehari-hari.




DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2010. Optik. http://id.wikipedia.com. Diakses pada 28 Maret 2012.

Aenul. 2011.Optika Geometri. http://blogspot.com. Diakses 11 Maret 2012.

Tim Penyusun. 2010. Fisika Dasar. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Yohanes dan Dewanto. H. 2009. Mahir Fisika. Kendi Mas Media. Yogyakarta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar